• Pengetahuan-Saya

    Bunuh diri

    Aku merasa tidak nyaman membicarakan tentang dorongan bunuh diri karena stigmanya sangat kuat. Beberapa tahun lalu seorang teman perempuan mengeluhkan bahwa dia merasa tidak mendapat dukungan yang diperlukan dari teman-teman di lembaga terkait dorongan bunuh diri yang dialami. Aku berefleksi dan sepertinya aku sendiri tidak memahami tentang bunuh diri dan cara menyikapinya. Ketika SMP aku pernah merasa ingin melakukan bunuh diri. Aku membayangkan diri sendiri melakukan bunuh diri dengan mengkonsumsi obat atau semacamnya. Perlahan bayangan atau dorongan itu berkurang. Sepertinya aku merasakan dorongan itu karena merasa sendirian, tidak ada yang dapat memahami pikiran dan situasiku, dan tidak punya ruang aman untuk bercerita dan mengurai berbagai tekanan yang aku alami. Aku…

  • Pengalaman-Saya

    Organization is not a family

    A reminder from Daniel Abrahams @daniel-abrahams Stop calling your company “a family”. Parents don’t fire their children for poor performance, or lay them off to cut household costs when they’re struggling to put food on the table. Focus on being a team, built on trust and respect, where every person feels valued. Ultimately, your company isn’t defined by your words, but by your actions. You may feel comfortable and safe in your organization or company where you work, which is fabolous. Congrats! But it’s a workplace and it has certain responsibility, deadlines, evaluation of performance, working hours, etc. Set the boundaries! You may be the co-founder of the organization and…

  • Pengalaman-Saya

    Food for thought

    From @AdamMGrant. In toxic culture, time off is a reward earned by working to exhaustion. Burnout is proof of commitment, and vacations are required to recover. In healthy culture, time off is a right granted to everyone. Well-being is a top priority, and vacations are encouraged to rejuvenate. From Yung Pueblo. A leap forward sometimes requires a cocooning period where you decrease the amount of interactions you have with other people and are less focused with your daily work. Moving slowly and turning your attention inward prepares you emotionally and energitically for the next level. Don’t compare your behind the scenes to everyone else’s highlight reel. It’s easier to admire…

  • Pengalaman-Saya

    Self-care menggunakan jurnal

    Ada banyak hal yang aku pelajari dari proses pemulihan diri tahun lalu. Salah satunya adalah mengidentifikasi emosi yang dirasakan. Tanyakan beberapa hal ini dan tuliskan di jurnal. Apa yang kamu rasakan saat ini? Kecewa, bahagia, bingung, marah? Apa yang terjadi hingga membuat kamu merasa seperti ini? Mungkin kamu merasa diabaikan, merasa tidak dihargai, dll? Apa yang ingin kamu lakukan terhadap perasaan ini? Apa pelampiasan yang biasa kamu lakukan? Apakah kamu akan melempar barang, berteriak dan mengatakan kata-kata kasar ke orang-orang sekitar meskipun bukan mereka yang salah? Apakah ada cara yang lebih baik untuk menghadapi perasaan ini? Apakah kamu pernah mengatur napas, menghitung sampai 10 detik sebelum membalas pesan, menyatakan rasa…

  • Pengalaman-Saya

    Quiet time

    I need to have quiet moment to write. It also one of the reason I am often using headphone or earphone. It is to block any sound, not just music or noises. Being quiet not only from the sound outside but also inside. Often it is your inside voice or sound that rampage in your mind that you can’t write. It’s too crowded. I am introvert both inside and outside. Once I get the flow, I can turn on voices or music. I usually write slowly. It takes time to put your heart into sentences. It takes time to decide the words to describe your emotions. It takes a courage…

  • Pengalaman-Saya

    Layar tancap

    Enggak tau kenapa pingin aja nulis tentang layar tancap. Aku merasa punya privilege atau keistimewaan sebagai generasi yang pernah mengalami layar tancap. Luar biasa banget, nonton film bareng sekian puluh atau mungkin sampai ratusan kepala. Aku tidak ingat judul film yang pernah aku tonton di layar tancap karena yang penting itu suasana kebersamaan dan keramaian saat nonton. Belum lagi keseruan beli jajanan, gelar tikar atau koran, dan jalan bareng teman-teman ke lapangan bola yang jaraknya kurang lebih 1 km dari rumah. Sampai sekarang aku senang jalan kaki karena sejak kecil sudah terbiasa jalan kaki ke depan komplek perumahan untuk naik angkot dan beraktivitas. Masjid di perumahan juga sekitar 700 meter…

  • Pengalaman-Saya

    O..o

    Hari ini pertama kali aku sakit kepala setelah tidak menjadi koordinator nasional di organisasi lama dan masuk ke organisasi baru. Sakitnya cenut-cenut. I said to myself, “What happen?” Seorang kawan pernah mengatakan bahwa aku mengalami gangguan psikosomatis, yaitu kondisi terjadinya penyakit fisik yang disebabkan atau diperparah oleh kondisi psikis/mental. Beberapa gangguan kecemasan itu meliputi stres dan kecemasan berlebih. Jadi pengidap psikosomatis biasanya merasa mengalami gangguan fungsi tubuh. Namun, saat dilakukan pemeriksaan fisik maupun pemeriksaan penunjang lain, tidak ada kelainan yang terjadi dalam tubuh. Biasanya setelah kondisi psikisku lebih baik, sakit kepala juga berkurang. Seperti malam ini, aku menulis sambil mendengarkan lagu di Spotify, sakit kepalaku berkurang. Tidak cenut-cenut kencang seperti tadi…

  • Pengalaman-Saya

    What is rest?

    How do you know that the activity you’re doing is a rest? What if you are still thinking something else? Can we have 100 percent rest? What types of rest are they? Why am I asking these questions? Maybe because I often have intention to take a rest but ended up not feeling fresh afterward. There is expectation that you will feel better after you take a rest. So when you don’t feel better and refresh, you ask yourself, maybe there is something wrong about my rest? Or maybe, you or I can’t take a proper rest for some reasons. I once read that taking sometime off from social media…

  • Pengalaman-Saya

    Land’s people

    I am not fond of the sea. Well, I often hate it, despise to be near it. I mean I can’t bear to think of its depth, unpredictable nature, unknown wilderness, and bad character. I feel nothing as a human, I feel powerless. The sea is a god in itself. The first encounter with the sea I think when I was 5 year-old. My parents took me to one or two of Seribu Islands near Jakarta. It was a big boat but I still can feel the wave in my head so I spent all day screaming my lung out. My mother was confused and she forgot to bring anti-nausea…