Pengetahuan-Saya

Rumah singgah kucing dan panti asuhan

Kemarin aku berkunjung ke rumah singgah kucing tempat aku menitipkan Item. Kangen sekali dengan kucing hitam belang itu. Aku berangkat dari Jalan Baru menuju Parung menggunakan motor. Di bagian teras rumah singgah ada banyak anjing yang menyambut siapapun tamu yang masuk. Aku diajak masuk ke dalam ruang (tamu) depan yang berisi gerombolan kucing. Aku melihat Item di sana. Berhubung penglihatannya minim, aku memanggil namanya supaya dia bisa mengenaliku. Entahlah, dia masih mengenali suaraku atau tidak. Sepertinya masih.

Sejak awal adopsi, aku memang jarang menggendong kucing karena pada dasarnya aku tidak suka kucing atau hewan berbulu. Jadi Item juga bukan tipe kucing yang ngalem dan suka bermanja di pangkuan. Aku ke sana untuk mengunjungi dia, melihat kondisi kesehatannya dan membelainya, memastikan bahwa dia sehat dan dapat beradaptasi di lingkungan baru. Ketika masuk ke ruang tamu, aku dikelilingi oleh sekitar 8 kucing. Beberapa kucing lain cuek dengan kehadiranku. Mungkin mereka sudah senior di sana dan terbiasa dengan kunjungan orang asing.

Sekitar 5 kucing berusaha mencari perhatianku. Ada satu kucing betina yang senang berdiri di pahaku dan seakan minta digendong atau dipeluk. Aduh! Aku tidak terbiasa juga menggendong kucing. Apalagi aku perhatikan kucing ini dan sekitar 2 kucing lain menderita flu terlihat dari cairan ingus di hidung mereka dan ada 2 yang sering bersin. Aku segera cek Item, oh hidungnya tidak berlendir dan dia tidak bersin.

Sebenarnya aku ingin ada ruang privasi antara aku dan Item untuk melepas kangen tapi kondisinya memang sulit karena ini rumah singgah bagi banyak kucing dan anjing yang berkebutuhan khusus. Sambutan dan perlakuan yang aku terima di rumah singgah mengingatkan aku pada sambutan di panti asuhan di Cipayung, Jakarta Timur.

Sudah hampir 15 tahun yang lalu aku mengunjungi panti asuhan di Cipayung. Di dalamnya terdiri dari beberapa ruang dan bayi dipilah berdasarkan usia. Jika tamu masuk ke ruangan berisi balita, mereka akan disambut dengan banyak balita yang berusaha meraih dan mencari perhatian. Mereka akan minta digendong, dipeluk, dibelai, dan lain-lain. Kondisinya seperti itu juga di rumah singgah hewan, terutama kucing dan anjing.

Hal ini juga yang membuatku sedih, karena seolah aku menitipkan Item ke panti asuhan. Item kan punya orang tua yaitu aku. Di saat yang sama, aku juga menilai konsep orang tua tidak cukup hanya dua orang. Penjaga dan pengelola rumah singgah sudah berbaik hati menampung Item dan teman-temannya. Makanan cukup memadai, ada dokter yang berkunjung secara rutin, dan Item mendapat akses sterilisasi dan vaksin dengan harga murah. Aku berdoa yang terbaik bagi Item dan kawan-kawannya.

Bogor, 15 Agustus 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.