Pengetahuan-Saya

Pindah (rumah) lagi

Tiga tahun belakangan pindah rumah menjadi rutinitas. Mulai dari Belakang RSU ke rumah di Saptorenggo, Pakis. Hanya 6 bulan kemudian dari Pakis ke Ciampea, Bogor. Lalu Ciampea ke Ciomas. Setelah itu, dari Ciomas ke Sukadamai. Dari Kabupaten Bogor ke Kotamadya Bogor. Bedanya kali ini rumah sudah menjadi milik sendiri. Bersyukur sekali karena suami mau membeli rumah dengan cara mencicil. Bangga juga karena suami membeli dari hasil kerja keras sendiri, bukan pemberian atau pinjaman dari saudara atau orang tua.

Hal positif dari pindah rumah adalah harus memilah kembali barang-barang yang akan dibawa. Pemilahan yang rutin cukup membantu mengurangi barang. Pindah rumah juga berarti membersihkan kulkas. Ini penting banget. Namun negatifnya adalah aku juga harus mengundurkan rencana penelitian. Tidak hanya karena pindahan tapi juga karena hal lain jadi paling tidak membantu proses aku bersiap diri.

Pindah rumah juga berarti biaya yang cukup besar. Aku sangat terbantu karena ikut arisan dan ada uang dari oper kontrak. Di rumah baru ini, biaya kebersihan dan keamanan lebih mahal tapi akibatnya lingkungan terjaga baik.

Perlu penyesuaian juga dengan tetangga baru. Selalu ada plus dan minus dari tiap lingkungan baru. Salah satunya, di rumah ini ojek online tidak bisa mengantar penumpang tapi bisa mengambil penumpang. Padahal sebelumnya, aku dan suami sering memesan makanan melalui ojek online.

Aku berusaha bersyukur dengan apa yang aku miliki dan tidak aku miliki. Rasa syukur itu saja cukup untuk memberi motivasi untuk menjalani apa yang ada di depan mata dengan lebih baik.

Bogor, 2 September 2018.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.