Pengetahuan-Saya

Taik kucing

Bau taik kucing menguar ke berbagai penjuru rumah mengganggu kesejukan pagi. Embun pagi dan air hujan dari malam sebelumnya menguatkan bau tidak sedap. Lantunan lagu “Angel” yang keluar dari kerongkongan Steven Tyler ikut menjadi masam. Aku keras kepala membuka dua jendela di kamar. Biarlah uap taik kucing itu berembus ke dalam kamar. Aku masih berharap baunya akan hilang dibawa angin. Sangat berharap.

Lagu-lagu 90an masih berputar di dalam kanal telinga. Aku bersyukur masih hidup dan menikmati masa ponsel pintar. Dengan alat ini aku mengumpulkan lagu-lagu era  1990 dan awal 2000. Lagu yang menandai lembah, gunung, laut, dan jurang emosi selama hampir 40 tahun. Lagu yang pernah aku dengar di Munjul, Cilangkap, Pondok Ranggon, Ciracas, Cijantung, Cibubur, Pasar Rebo, Depok, Salemba, Jogja, Medan, Sidikalang, Cape Town, Bali, Malang, Surabaya, Dramaga.

Aku masih terlentang di atas kasur yang nyaman seharga hampir 4 juta. Iya, aku harus menyebutkan harganya supaya orang lain tahu kelas sosialku dan aku bicara sesuai dengan yang aku alami. Aku si kelas menengah ngehe. Tentu saja aku tinggal di perumahan cluster dengan pengamanan 24 jam dengan biaya bulanan 145 ribu.

Aku masih terlentang. Di sampingku ada laki-laki yang masih tidur. Dia suamiku. Seperti pekerja kelas menengah lainnya yang tinggal di Bogor dan bekerja di Jakarta agar bisa mencicil rumah ini selama 12 tahun ke depan, akhir minggu adalah waktu molor panjang. Tujuannya mengistirahatkan betis dan paha yang harus kuat berdiri selama 3,5 jam pulang pergi dengan kereta listrik setiap Senin sampai Jumat. Aku anggap dia tidak ada.

Bau taik kucing ini lebih penting. Bagaimana menguburkannya? Aku sering memberi makan kucing liar, terutama ke empat anak kucing yang berkeliaran di sekitar rumah. Apa kebaikanku dibalas dengan taik mereka? Rumahku yang nyaman terbukti nyaman juga untuk kucing-kucing liar. Kurang kelas menengah apa aku?

Aku menengok ke penunjuk waktu di ponsel pintar. Aku ingin sekali percaya bahwa Tuhan berperan penting dalam penciptaan ponsel pintar, selain para programmer dan investor. Lagu “You’re All I Have” dari Snow Patrol bermain-main di otak.

Aku tidak kesulitan mengangkat tubuh. Aku kesulitan memfokuskan pikiran karena terganggu dengan bau taik kucing. Sebentar! Seluruh dunia ini sebenarnya bau taik kucing, mungkin lebih buruk. Bayar iuran kebersihan 145 ribu/bulan dan masih terpapar bau taik kucing. Wow! Mungkin aku harus menaikkan kelas sosialku atau menjauhkan diri dari kucing-kucing liar. Beri saja donasi ke rescuer yang bertebaran di Instagram. Itu sudah cukup, tidak perlu peduli dengan kucing-kucing liar di sekitarku. Tega gak?

Gak usah main tega. Itu permainan yang sulit dikalahkan. Emosi manusia itu rapuh. Lebih rapuh  dari tulang.

Lagu “Not One Night” dari Mr. Big menari di pelupuk mata. Lagu ini aku dapat dari server di tempat kerja di Jogja. Sejarahnya juga lucu. Dulu sih gak lucu tapi sekarang jadi lucu. Setelah itu lagu “I Remember You” dari Skid Row. Entah darimana aku culik lagu ini. Aku ingin percaya bahwa Tuhan punya andil menciptakan lagu-lagu ini, tidak hanya para pemuda-pemudi dalam kondisi setengah teler dan setengah telanjang di kamar mereka.

Seharusnya aku sudah terbiasa dengan bau taik kucing. Aku harus melupakan bau ini dan mencari bau-bau lainnya. Aku harus bergerak dari bau ini.

Bogor, 10 November 2018

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.