Pengetahuan-Saya

Lulusan SD

Pekerja Rumah Tangga (PRT) yang bekerja paruh waktu di rumah seorang perempuan berusia 22 tahun dan tidak lulus SD. Aku penasaran karena aku tinggal di Kota Bogor yang dekat dengan fasilitas pendidikan dari playgroup sampai universitas bertaraf nasional, tapi warganya yang lebih muda dariku tidak lulus SD. Pasti ada penjelasannya.

Di satu kesempatan, ibunya datang ke rumah. Ibunya juga bekerja sebagai PRT di perumahan yang aku tinggali.

“Ummi, kenapa Teteh cuma lulusan SD? Dia kan lebih muda dari aku.”
“Iya. Dulu itu waktu punya anak tiga Ummi ditinggal mati suami. Jadi janda. Makanya anak pertama, cewek juga, sama Teteh ini, anak kedua enggak lulus SD. Dulu kan Ummi kerja di perumahan depan, Teteh dibawa kalau kerja karena enggak ada yang nungguin. Enggak ada biaya juga buat sekolah. Sekarang, adiknya Teteh ini, cowok, Ummi sekolahin sampai SMA. Lagian dia juga cowok kan, nanti jadi kepala keluarga. Ya gimana bisa lulus SMA aja.”
“Oh gitu ceritanya.”
“Iya, dulu anak pertama sudah sekolah jadi bisa ditinggal. Anak kedua, Teteh ini, Ummi bawa kerja, jadi pembantu juga.”
“Oh, iya Ummi, kalau lulusan SD sekarang susah cari kerja. Lulusan SMA aja kadang masih susah.”
“Iya, makanya diusahakan lulus SMA adiknya.”

Aku jadi teringat pengalaman bapak. Bapak juga anak yatim. Kakekku dibunuh pada saat bapak berumur sekitar 2 bulan. Nenekku stres dan menolak mengasuh bapak. Akhirnya bapak diasuh oleh tetangganya yang biasanya kami panggil Mbah War. Bapak tidak mendapatkan air susu ibu karena nenek stres. Waktu itu kasus pembunuhan kakek menjadi bahan perbincangan dan nenek memiliki 3 anak laki-laki yang masih kecil. Bapak sangat pandai di sekolah, lebih pandai dari kedua kakaknya dan nenek menjual tanah dan berbagai barang supaya bisa menyekolahkan ketiga anaknya sampai SMA. Setelah lulus SMA, bapak ingin kuliah tapi karena kondisi keuangan maka bapak melamar menjadi polisi agar bisa menafkahi ibunya. Apalagi saat itu ibunya sudah menikah lagi dan memiliki dua anak yang usianya terpaut jauh dengan bapak.

Kisah tentang anak yatim yang tidak bisa melanjutkan pendidikan formal sangat banyak terjadi. Di keluarga suami ada 2 kerabat dengan masing-masing 2 anak yang berstatus yatim. Aku mendorong suami untuk bisa memberi sebagian rezeki ke mereka berdua agar minimal anak-anak mereka bisa lulus SMA.

Bogor, 15 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.