Pengetahuan-Saya

Berapa lama kita akan merdeka?

Tadi sore aku menonton tayangan dari unreportedworld tentang balerina di Irak. Dalam tayangan pendek tersebut diceritakan adanya tembok tinggi yang ada di Kota Baghdad. Tembok ini memisahkan pemukiman kaum Sunni dan Shiah. Di masa Saddam Husein kaum Sunni menguasai pemerintahan selama beberapa dekade. Kaum Shiah menjadi kelompok marjinal dan hampir tidak memiliki kebebasan berekspresi. Hal ini berlangsung sampai terjadi invasi AS dan sekutunya. AS menggunakan konflik sektarian untuk menumbangkan diktator di Irak. Kaum Shiah lalu berkuasa dan mereka membalas dendam dengan cara mengulang bentuk-bentuk kediktatoran yang dilakukan Saddam Husein.  Ironis.

Ketika melihat tembok yang menjulang tinggi, check point di dalam kota, kelompok fundamentalis yang mengancam warga dengan alasan moral, aku merasa sangat sedih. Indonesia bisa menjadi negara seperti itu jika tidak ada toleransi antar kelompok baik etnis, agama, dan kepentingan sosial lain. Di banyak negara Asia, seperti halnya di Indonesia, budaya dan agama di Indonesia saling berkelindan. Fakta ini bisa menjadi hal yang positif atau negatif. Dalam konsep budaya Koentjaraningrat klasik, agama atau sistem kepercayaan merupakan salah satu bagian budaya. Dalam konsep “nation building” dari masyarakat yang semakin beragam, aku memaknai budaya suatu bangsa sebagai seperangkat aturan dan nilai yang disepakati bersama untuk menjaga kekuatan dan kesatuan jati diri. Kesepakatan ini perlu terus-menerus dibangun dan tidak akan pernah usai. Tidak pernah ada kata aman atau harga mati. Pertarungan paradigma tentang “Indonesia” selalu bergerak bersama dengan dinamika kekuasaan di masyarakatnya.

Menjadi kuat sebagai sebuah kesatuan merupakan bagian penting dari kesepakatan. Kalau saya berjuang hanya untuk menjadi kuat sebagai muslim dan orang jawa, dan cara untuk melakukannya adalah dengan menekan dan mendiskriminasi non muslim dan non jawa, maka akan ada banyak masalah dengan kekuasaan yang saya miliki. Kalau agama dianggap sebagai pemersatu perbedaan, masalah lain akan muncul karena setiap orang memaknai agama mereka berbeda. Apa yang dianggap sebagai pemersatu justru bisa menjadi pembeda.

Aku bangga dengan “Indonesia” dengan beberapa catatan. Aku masih perlu membuat catatan karena konsep “NKRI harga mati” digunakan sebagai alasan untuk melakukan penindasan di Papua. Aku tidak sudi. “Menjadi Indonesia” itu bukan paksaan dan doktrin. “Menjadi Indonesia” merupakan imajinasi yang dipelajari dan dibentuk perlahan dan bersama-sama. Kalau aku disiksa untuk “menjadi Indonesia”, aku akan menjadikan Indonesia sebagai musuh bersama.

Aku selalu merasa Indonesia sebagai rumah yang dibangun bersama, artinya dia milik bersama. Semua pihak yang berkontribusi tenaga, uang, makanan, minuman, material, tanah, air mata, keyakinan, semangat, punya andil dan punya hak yang sama terhadap Indonesia. Semua pihak itu juga punya hak membentuk imajinasi tentang Indonesia. Jangan salahkan Papua kalau mereka punya imajinasi Indonesia yang berbeda jauh dengan imajinasi aku dan kamu tentang Indonesia.

Aku tidak ingin imajinasi Indonesia berubah seperti yang terjadi di Suriah, Irak, Yaman, dan negara-negara konflik yang ada di benua Afrika. Tidak ada yang bisa dibanggakan dari 300 tahun dijajah oleh Portugis, Belanda dan Jepang jika kita memahami imajinasi Indonesia sebatas identitas etnis dan agama yang dilekatkan dari lahir. Tidak ada bedanya kita dengan manusia pra Indonesia yang melihat dirinya sebagai bagian dari kerajaan anu dan inu. Lagipula sebelum jadi muslim, aku yakin nenek moyangku dulu bangga menjadi Hindu atau Buddha. Mereka hanya berjuang untuk agama masing-masing tanpa imajinasi Nusantara. Akibatnya mudah sekali ditebak; mudah pecah.

Lucunya, manusia pra Indonesia merasa tidak ada masalah pecah selama dia dan kelompoknya berkuasa dengan menindas sesama manusia berkulit sawo matang dan legam. Menjadi superior di atas kelompok lain bukan satu unsur ideal untuk membangun imajinasi bersama. Memiliki musuh bersama kadang juga bukan rumus jitu untuk menyatukan perbedaan. Musuh bersama juga bukan pihak yang bodoh, dia akan berusaha untuk berkawan dengan satu pihak sehingga Indonesia berusaha mencari musuh bersama yang lain. Kalau kita selamanya mencari musuh bersama untuk bersatu sebagai bangsa, berapa lama lagi kita akan merdeka?

Bogor, 23 Desember 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.