Pengetahuan-Saya

Ketika seorang aktivis sakit hati

Malam ini aku membaca cerita tentang kekecewaan seorang aktivis perempuan berkulit hitam dari Amerika Serikat melalui akun Twitter. Dia merasa kecewa ketika seorang aktivis laki-laki berkulit putih yang aktif dalam gerakan sosial berbohong, mengatasnamakan pemikiran orang lain, dan tidak meminta maaf atas kesalahan itu jika tidak diminta. Aktivis laki-laki ini terkenal di lingkaran gerakan sosial, termasuk gerakan feminis dan perjuangan hak orang kulit hitam. Dari cerita yang disampaikan perempuan ini, si aktivis laki-laki mengeksploitasi sebuah LSM kecil dan seorang aktivis perempuan muda berkulit hitam yang pada waktu kejadian berstatus sebagai relawan. Ada relasi kuasa yang timpang antar mereka.

Cerita ini mengingatkanku pada cerita beberapa teman yang mengalami kekecewaan yang hampir sama terhadap individu aktivis di dalam gerakan sosial. Sebagian dari mereka masih bertahan di gerakan dengan cara masing-masing. Ada yang memilih bergerak tanpa lembaga, memilih menjadi relawan, bekerja paruh waktu di LSM, membuat komunitas baru, membuat lembaga baru, atau secara tidak langsung bekerja di gerakan seperti menjadi notulen atau penerjemah. Ada pula yang memilih untuk keluar dari gerakan dan memilih bekerja di swasta. Mereka tidak lagi melakukan pengorganisasian tetapi menjadi relawan atau donatur dalam isu tertentu dan tidak menyebarluaskan kegiatan mereka di media sosial. Ada beberapa teman juga yang sudah berniat untuk mundur dulu dari gerakan. Relasi antar individu di dalam lembaga terasa semakin berat, terutama ketika aktivis tersebut masih muda, tidak terkenal, tidak bekerja di suatu LSM besar, dan bukan heteroseksual. Beban relasinya semakin berat.

Ini bukan akhir dari pengorganisasian bagi sebagian aktivis. Mereka mundur untuk memulihkan diri sehingga mendapatkan kekuatan untuk kembali. Mereka merasa mengorganisir sebuah gerakan dengan hati yang terluka dapat berdampak negatif bagi orang-orang di sekitar. Kekecewaan terhadap pelanggaran sebuah nilai keadilan bagi aktivis dapat menjadi traumatis. Tidak saja perkara hati yang terluka tapi yang lebih penting kehilangan kepercayaan terhadap makna gerakan sosial tersebut. Bagaimana seseorang dapat bekerja untuk sesuatu dan seseorang yang tidak lagi dapat dipercaya?

Biasanya lembaga menyayangkan keputusan ini karena mereka merasa sudah memberikan kesempatan dan mengeluarkan biaya besar untuk peningkatan kapasitas aktivis tersebut. Mereka juga kadang membicarakan si aktivis dengan nada miring. Makin berat bagi si aktivis tersebut untuk kembali ke lembaga yang sama. Kemungkinan adalah dia menjauh untuk memulihkan diri sambil mengorganisir dengan berbagai cara.

Bogor, 12 Januari 2019.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published.