Pengetahuan-Saya

Pemberdayaan

Francis et al. (2008) merangkum definisi pemberdayaan dari berbagai ahli dengan melihat dari tujuan, proses, dan cara-cara pemberdayaan dilakukan. Ife (195) mengatakan bahwa pemberdayaan bertujuan untuk meningkatkan kekuasan orang-orang yang lemah atau tidak beruntung. Kemudian Parsons et al. (1994) menyatakan bahwa pemberdayaan adalah sebuah proses yang memungkinkan orang menjadi cukup kuat untuk berpartisipasi, mengontrol, dan mempengaruhi kejadian-kejadian serta lembaga-lembaga yang berhubungan dengan kehidupannya. Pemberdayaan menekankan bahwa orang yang mengalaminya memperoleh ketrampilan, pengetahuan, dan kekuasaan yang cukup untuk mengubah kehidupannya dan kehidupan orang lain yang menjadi perhatiannya.

Ahli lain menyebutkan bahwa pemberdayaan merujuk pada usaha pengalokasian kembali kekuasaan melalui upaya untuk mengubah struktur sosial (Swift dan Levin, 1987). Rappaport (1984) menulis bahwa pemberdayaan adalah suatu cara ketika rakyat, organisasi, dan komunitas diarahkan agar mampu menguasai (atau berkuasa atas) kehidupan mereka.

Menurut Ife (1995), pemberdayaan memuat dua pengertian kunci, yakni kekuasaan dan kelompok lemah. Kekuasaan di sini diartikan bukan hanya menyangkut kekuasaan politik dalam arti sempit, melainkan penguasaan klien atas:

  • Pilihan-pilihan pribadi dan kesempatan hidup: kemampuan dalam membuat keputusan-keputusan mengenai gaya hidup, tempat tinggal, pekerjaan.
  • Pendefinisian kebutuhan: kemampuan menentukan kebutuhan selaras dengan aspirasi dan keinginannya.
  • Ide atau gagasan: kemampuan mengekspresikan dan menyumbangkan gagasan dalam suatu forum atau diskusi secara bebas dan tanpa tekanan.
  • Lembaga-lembaga: kemampuan menjangkau, menggunakan dan mempengaruhi pranata-pranata masyarakat, seperti lembaga kesejahteraan sosial, pendidikan dan kesehatan.
  • Sumber-sumber: kemampuan memobilisasi sumber-sumber formal, informal dan kemasyarakatan.
  • Aktivitas ekonomi: kemampuan memanfaatkan dan mengelola mekanisme produksi distribusi dan pertukaran barang serta jasa.
  • Reproduksi: kemampuan dalam kaitannya dengan kelahiran, perawatan anak, pendidikan dan hubungan sosial.

Dengan demikian, pemberdayaan adalah sebuah proses dan tujuan. Sebagai proses, pemberdayaan adalah serangkaian kegiatan untuk memperkuat kekuasaan atau keberdayaan kelompok lemah dalam masyarakat termasuk mereka yang mengalami masalah kemiskinan. Sebagai tujuan, pemberdayaan menunjuk pada keadaan atau hasil yang ingin dicapai melalui sebuah perubahan sosial; yaitu masyarakat yang berdaya, memiliki kekuasaan atau mempunyai pengetahuan dan kemampuan dalam memenuhi kebutuhan hidupnya, baik yang bersifat fisik, ekonomi, maupun sosial. Hal ini termasuk memiliki kepercayaan diri, mampu menyampaikan aspirasi, mempunyai mata pencaharian, berpartisipasi dalam kegiatan sosial, dan mandiri dalam melaksanakan tugastugas kehidupannya. Pengertian pemberdayaan sebagai tujuan seringkali digunakan sebagai indikator keberhasilan pemberdayaan sebagai sebuah proses.

Fasilitator memiliki peran dalam memberdayakan masyarakat dengan terlebih dulu memahami bahwa pertama, pemberdayaan berarti usaha untuk memberdayakan seseorang atau sekelompok orang dari ketidakberdayaannya. Kedua, pemberdayaan boleh jadi merupakan usaha meningkatkan keberdayaan yang telah ada namun belum maksimal. Ketiga, pemberdayaan bisa menjadi upaya strategis “menyelamatkan” masyarakat dari praktek-praktek yang memperdayakan mereka. Keberdayaan merujuk pada sebuah keadaan atau kondisi ketika masyarakat mampu mengelola sumber daya manusia dan sumber daya alam yang dimiliki, membangun jaringan yang mutualistik dengan pihak luar untuk memecahkan isu bersama dan memperoleh pembagian hasil yang adil.

Di samping pemerintah, LSM merupakan aktor pembangunan yang memiliki keberpihakan pada kelompok lemah dan tidak memiliki kekuasaan dalam pengambilan kebijakan. Kehadiran para fasilitator baik pemerintah maupun LSM diperlukan untuk membantu pemerintah mengatasi berbagai fakta ketidakberdayaan yang dialami masyarakat. Contoh ketidakberdayaan yaitu ketidakberdayaan struktural yang terlihat dalam kesenjangan antara praktik dengan kebijakan, rendahnya SDM, akumulasi pengangguran, rendahnya upah atau kondisi geografis.

Sumber:

Francis, F.D., Ghewa, Y., Lilijawa, I. 2008. From Santa Claus to partner: Bagaimana fasilitator berpikir dan bekerja dengan masyarakat. Makassar: Bursa Pengetahuan Kawasan Timur Indonesia.

Leave a Reply

Your email address will not be published.