Pengetahuan-Saya

Kisah Cempedak

Dalam perjalanan ke kampus hari ini, aku menghidu bau semerbak cempedak di udara. Memang di kanan dan kiri jalan berdiri warung buah-buahan. Durian dan cempedak menjadi primadona di bulan Februari ini.

Aku punya kisah sendiri dengan cempedak. Aku mengenal cempedak di SD, mungkin sekitar kelas 3. Pada waktu itu, aku baru lancar membaca dan sedang getol-getolnya mencari bacaan. Kemampuan baruku itu membawa keasyikan memperluas khayalan. Aku sangat senang dan mencari berbagai karangan, tulisan fiksi untuk dibaca terutama di rumah. Aku akan membongkar lemari baik di rumah sendiri maupun di rumah orang lain untuk menemukan bacaan. Salah satu bacaan hasil “bongkaran” itu adalah cerita beberapa paragraf tentang seorang anak laki-laki yang menyukai buah cempedak.

Aku pun penasaran dengan buah ini. Aku bertanya ke orang tua, mereka tidak tahu tentang buah cempedak. Aku pendam rasa ingin tahu itu. Lalu aku bertanya ke teman di sekolah yang menunjukkan buah cempedak yang masih banyak tumbuh di sekitar sekolah di daerah Cilangkap, Jakarta Timur.

Buah dan harumnya seperti nangka namun ukurannya lebih kecil. Aku lupa, sepertinya aku tidak pernah mencoba rasa buah ini, aku hanya mendengar cerita teman-teman. Jika rasanya memang seperti nangka, aku bisa maklum kalau anak laki-laki dalam cerita yang aku baca tergila-gila dengan cempedak. Ah, kangen aku masa-masa selonjoran di lantai membaca karangan pendek di buku pelajaran selama berjam-jam. Pada masa itu, buku cerita yang dapat dipinjam dari perpustakaan keliling sangat terbatas dibanding nafsu besar untuk membaca. Bahagia sekali!

Bogor, 5 Februari 2019.

Leave a Reply

Your email address will not be published.