Pengalaman-Saya

Mandiri ala Milenial

Tulisan ini bukan tentang Bank Mandiri atau nama perusahaan lain dengan nama mandiri tapi tentang sebuah tujuan. Dalam ilmu penyuluhan, kemandirian dapat terjadi jika ada kepemimpinan dan kelembagaan yang kuat, akses terhadap sumber daya, dan mampu mengelola sumber daya secara berkelanjutan. Kemandirian yang aku pahami  tidak hanya bebas dari tekanan atau mampu melakukan seluruh kegiatan sendiri tetapi lebih dari itu sebuah kondisi seseorang atau sebuah lembaga yang mampu memotivasi dan mengatur diri sendiri untuk menyelesaikan masalah yang dihadapi dan bertanggung jawab atas keputusan yang diambil. Mandiri juga berarti mampu bekerjasama dengan orang lain sesuai dengan kemampuan yang dimiliki alias interdependency. Dengan saling mengandalkan keberadaan kita dengan yang lain, tidak ada yang dinihilkan, lebih tinggi satu dari yang lain.

Aku berusaha mewujudkan kondisi itu dengan berwirausaha baik secara sosial maupun profit. Aku merasa lebih nyaman berusaha sendiri dari awal, dengan modal yang ada dan mengembangkannya. Aku punya keleluasaan dan kekuasaan. Tidak harus mencari “muka” dengan bermain drama dan bersaing untuk mendapatkan wewenang lebih besar. Aku belajar untuk bersaing dengan mengamati apa yang orang atau usaha lain lakukan kemudian memutuskan, mana yang sesuai dan mampu dilakukan oleh tim. Bongkar pasang tim sudah biasa terjadi. Anggota tim juga mencari kecocokan dengan usaha dan individu di dalam usaha. Kecocokan 100% mustahil dicapai tapi paling tidak masing-masing mencari kondisi yang dapat mereka toleransi dan rekayasa agar mereka masih nyaman bekerja.

Menjadi seorang pekerja di sebuah lembaga, perlu menimbang berbagai pendapat dan perasaan orang lain. Seringkali orang yang punya andil atau saham lebih besar merasa suaranya yang perlu lebih didengar. Kadangkala sebuah organisasi ingin dipimpin oleh perempuan muda tapi pada saat yang sama kurang memperhitungkan atau bahkan mengecam cara bekerja, visi, dan perilaku berkomunikasi perempuan milenial. Bukan tidak mungkin ide atau cara kerja yang berbeda dianggap sebagai pembangkangan. Bukan tidak mungkin juga ketika menemukan satu yang cocok, maka orang tersebut dijadikan anak emas sehingga diminta terus memimpin selama sekian lama. Ada konsekuensi ketika seseorang dari suatu era yang berbeda menjadi pemimpin. Ada bagian dari karakter pemimpin sebelumnya yang bisa ditumbuhkan di diri pemimpin baru tapi tetap punya nuansa berbeda. Kadangkala perbedaan menangani suatu pekerjaan menjadi masalah.

Kalau dirunut berdasarkan tahun kelahiran, aku tidak termasuk generasi milenial tapi generasi X. Selain terkait penamaan ikut berpengaruh juga dengan jenis perangkat komunikasi, isu sosial politik, dan budaya yang berkembang pada era tersebut. Contoh sederhana adalah belakangan aku sering tidak membawa buku catatan dan lebih memilih mengetik di ponsel atau kadang merekam obrolan untuk didengarkan kemudian lalu dihapus. Orang yang tidak tahu atau tidak paham dengan cara ini bisa jadi berpikir bahwa ketika dia berbicara, aku justru kirim WA atau SMS ke orang lain. Jadi konsentrasiku terpecah, padahal aku mendengarkan dan mencatat apa yang dibicarakan. Aku sendiri pernah membuat asumsi salah seperti itu. Ketika aku bicara, temanku, generasi milenial, membuka aplikasi powerpoint dan mengetik. Aku pikir, “aku ngomong, dia malah bikin presentasi.” Rupanya dia mencatat apa yang aku sampaikan tapi dia lebih suka mencatat pointer di powerpoint agar bisa langsung diolah.

Aku jadi berpikir bahwa apakah mungkin cara setiap generasi melihat “relasi kekuasaan” dan “sebuah hubungan organisasional” juga berbeda dari generasi sebelumnya. Aku pernah membaca bahwa generasi milenial tidak melihat loyalitas sebagai suatu hal yang penting dalam bekerja. Mungkin cara milenial melihat kemandirian juga berbeda. Ketika kita bekerja dengan orang dari generasi yang berbeda, mungkin asumsi kita tentang “bekerja” dan “bermain” juga perlu mengakomodasi cara yang berbeda. Prinsip atau nilai dapat ditumbuhkan tapi cara mengaplikasikannya bisa jadi berbeda.

Bogor, 26 April 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.