Uncategorized

Fungsi seorang pacar

Apa manfaat berpacaran? Apa fungsinya seorang pacar?

Selama bersekolah sampai dengan awal saya bekerja, saya tidak memikirkan berpacaran. Saya masih sibuk mengurusi identitas diri yang belum selesai. Saya belum punya kebutuhan berelasi atau berpacaran atau bahkan menikah. Ketika urusan diri menjadi lebih tertata, saya merasa siap menjalin relasi dan melakukannya.

Sebelumnya, saya bertanya dua hal di atas. Saya tidak suka berpacaran karena tidak suka romantisme. Semesta kemudian mengirim seorang laki-laki yang punya kecenderungan yang sama. Saya bukan perempuan yang suka ditanya dan dipantau. Saya juga bukan tipe perempuan yang jika mengirim pesan, lalu berharap bahkan mengultimatum pacar atau suami untuk menjawab sesegera mungkin. Saya senang jika dijemput pacar, tapi harus dilakukan atas dasar kerelaan dari kedua belah pihak. Kalau saya tidak ingin dijemput, saya tidak suka dipaksa untuk dijemput. Di banyak kesempatan, saya tidak ditraktir makan. Saya suka dibelikan barang pada momen istimewa, tapi di luar momen itu, saya bisa membelikan sesuatu untuk diri saya sendiri. Saya menikmati kemandirian sebagai bentuk saling membutuhkan dan saling memberi, bukan untuk menciptakan rasa nyaman yang saya pertaruhkan pada diri orang lain.

Hubungan kedua orang tua bukan hubungan gender yang egaliter. Tidak heran jika sedari kecil, ibu selalu menekankan agar saya bersekolah dan mendapatkan pekerjaan untuk dapat hidup sendiri. Biasanya dia juga menambahkan untuk mencari suami yang cukup mapan. Menurut saya, nasihat kedua agak bertentangan dengan nasihat pertama.

Saya mengamati banyak hubungan lain dan tidak merasa nyaman untuk menjalani hubungan seperti itu. Saya mencari hubungan bentuk lain.

Tentu ada perasaan nyaman dan diinginkan ketika memiliki pacar yang memberi perhatian lebih dengan berbagai cara, mulai dari memberi hadiah, membelikan barang, mentransfer uang, menelepon beberapa kali dalam sehari dan sebagainya. Namun, saya merasa tidak cocok. Saya ingin mempertahankan ruang aman individu untuk saya dan pasangan. Saya dan pasangan memiliki dunia yang kadang berbeda, tapi di suatu waktu bisa bersinggungan.

Saya jarang merasa cemburu karena merasa kami berdua adalah tipe orang yang merasa nyaman dengan diri sendiri dan merasa menjalin relasi baru dengan orang lain akan merepotkan diri sendiri. Kami bukan orang yang mudah menjalin relasi intim dengan orang baru.

Sering saya mendapat komentar bahwa hubungan saya dan pasangan unik atau tidak biasa sehingga perlu hati-hati. Awalnya saya sempat berpikir yang sama. Namun, semakin hari saya merasa bahwa setiap pasangan perlu membangun dan menyepakati hubungan sehat yang dapat merawat kemandirian dalam kasih sayang. Ini untuk mengingatkan saya dan pasangan agar tidak terlalu cuek. Dengan begitu saya merasa tidak dituntut untuk mengikuti gaya berhubungan yang dianggap ideal pada suatu masa, bahwa pacaran itu harus begini dan begitu. Sepanjang ada kesepakatan tentang nilai kesetaraan, keadilan, dan kemandirian, maka hubungan itu layak dijalani.

Saya pernah merasa kecewa dengan ibu saya. Berkali-kali sebenarnya. Cukup lama saya menderita penyakit kulit di sekitar mata, sepertinya alergi. Rasa gatal membuat kulit sekitar mata menghitam dan merusak penampilan. Ibu pernah berkomentar, “Untung kamu sudah laku!” Saya terkejut. Kenapa sampai terucap kalimat itu?

Saya balik lagi ke masa-masa sebelum menikah. Ibu saya, dan mungkin banyak ibu-ibu lain di luar sana, melihat “harga” anak perempuan mereka ketika ada seorang laki-laki yang mau menikahi dan menafkahinya. Ini jadi salah satu alasan saya meminta ada perjanjian perkawinan yang membahas tentang harga dan utang dengan pasangan. Sekian tahun lamanya saya membangun “harga” saya sendiri, tidak menggantungkan atau menyesuaikan “harga” diri saya dengan harga laki-laki atau perempuan lain. Itu bukan perkara mudah. Apalagi di tengah puisi-puisi cinta yang memabukkan, laki-laki yang ingin menjadi pahlawan, tuntutan menikah dengan laki-laki yang diagungkan, harapan untuk menjadi perempuan sholeh, dan pengalaman kekerasan seksual yang seakan tidak habis.

Jadi kalau saya bertanya ke diri sendiri, apa manfaat dari pacaran? Belajar menegosiasi visi dan nilai hidup. Namun, sebelumnya, seseorang perlu memiliki visi dan nilai hidup yang akan dinegosiasikan.

Bogor, 28 Oktober 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.