Uncategorized

Media sosial yang nonsosial

Hubunganku dengan media sosial, sambung putus. Namanya teknologi digital, seringkali hanya romantisme sesaat. Dulu pernah keluar dari Facebook. Kemudian aku membuat akun di Line, Instagram, Path. Aku masih terus memakai Twitter. Untuk komunikasi langsung, aku punya aplikasi SMS bawaan HP, Telegram, Whatsapp, dan Signal. Sekarang aku mulai menutup lagi akun Facebook. Awalnya merasa terganggu dengan keamanan dan privasi. Lalu aku belajar bahwa dengan menutup akun, bukan berarti informasiku tidak dapat ditemukan. Alasanku sekarang adalah waktu untuk mengelola atau sekadar mengintip isi media sosial tersebut.

Line sudah aku hapus terlebih dulu. Path tidak pernah aku pakai lagi. Alhasil hanya Twitter dan Instagram. Toko daring juga aku batasi, terutama yang jarang aku pakai. Aku rasa durasi paling banyak aku habiskan untuk mencari jurnal atau informasi yang berhubungan dengan perkuliahan dan untuk belanja daring. Seringkali aku hanya suka melihat produk yang dijual, kualitas produk, dan membandingkan harga. Sekadar mengetahui bahwa produk F lebih bagus dari D dan produk K lebih murah dari J sudah ada rasa puas.

Aku juga merasa terlalu banyak grup di instant messenger tidak efektif. Apalagi kalau aku hanya sebagai peserta pasif dan aku tidak mendapat “keuntungan” dari grup tersebut. Seringkali aku mendapat 1 pesan, baik gambar atau video, yang sama. Ibaratnya orang begitu mudah meneruskan informasi ke orang atau grup lain. Orang juga mudah termotivasi dengan kalimat, “sebarkanlah informasi ini ke umat atau muslim lain dan seterusnya”. Aku juga pernah termakan dengan “rayuan” macam ini. Sukurlah, sekarang aku berusaha menahan diri.

Seorang teman kerja sampai sekarang tidak memiliki smartphone. Ini pilihannya dan tempat dia bekerja tidak memaksanya untuk memiliki smartphone karena dia menggunakan Facebook dan Gmail sehingga berkomunikasi menggunakan kedua aplikasi tersebut.

Menahan diri untuk tidak bermedia sosial secara berlebihan mungkin menjadi tema tahun 2018 ini. Sangat tidak mudah tapi dengan semakin kuat tuntutan untuk segera lulus kuliah, insyaallah aku bisa melakukannya.

Bogor, 24 Mei 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.