Pengalaman-Saya,  Perjalanan-Saya

Beautiful Belitong

Minggu lalu saya dan teman-teman mengunjungi Pulau Belitung. Kunjungan ini cukup mendadak karena biasanya jika direncanakan jauh-jauh hari justru tidak terlaksana. Selain karena ingin melepas penat sehabis kolokium dan ujian kualifikasi tulis, biayanya masih terjangkau. Misalnya untuk tiket pulang-pergi kami mendapat harga Rp 679.000/orang. Itu pun jika kami mau membeli lebih cepat, kami bisa dapat harga Rp 600.000/orang. Untuk biaya pemandu dari agen travel kami mendapat harga Rp 800.000/orang. Semakin banyak orang yang ikut, biasanya semakin murah. Itu juga tergantung dengan fasilitas yang diminta pengunjung. Paket dengan harga tadi khusus untuk 3 hari 2 malam.

Kekhawatiran awal adalah cuaca karena di bulan Maret ini masih sering turun hujan. Alhamdulilah selama perjalanan ke pantai dan ke beberapa tempat, tidak turun hujan. Hujan biasanya turun pagi-pagi sekali atau sore ketika perjalanan sudah hampir selesai. Di pagi sampai siang hari cuaca cenderung panas, bahkan terasa menyengat kulit.

Perjalanan udara dari Jakarta ke Belitung memakan waktu sekitar 50 menit. Agen travel yaitu Visit Belitong sudah menunggu di Bandara H. AS Hanadjoedin. Kami langsung menuju kota di Tanjung Pandan menggunakan mobil yang sangat nyaman dan dapat memuat sampai 11 orang. Kami makan pagi di WanBie dengan menu mie khas Belitung. Dalam perjalanan, pemandu memberi informasi bahwa di Belitung tidak ada waralaba supermarket seperti Alfamart dan Indomaret, tidak ada mal besar, dan tidak ada angkutan umum kecuali bus dari bandara.

Hari pertama diisi dengan mengunjungi berbagai pulau menggunakan perahu nelayan. Ada Pantai Tanjung Kelayang, Pulau Pasir, Pulau Batu Berlayar, Pulau Lengkuas, Pulau Kepayang, Pantai Tanjung Kelayang, dan Pantai Tanjung Tinggi. Snorkeling dilakukan di sekitar Pantai Lengkuas. Bagi orang yang belum pernah snorkeling, perlu kalem alias tidak terburu-buru atau bernafsu mencoba, terutama kalau tidak bisa berenang. Pemandu memang mengatakan bahwa kita tidak akan tenggelam tetapi secaraa psikis pasti ada ketakutan. Biasakan diri dengan lingkungan dan jika bukan anak pantai, sebaiknya menggunakan pakaian lengan panjang karena kombinasi air laut dan terik matahari membuat kulit agak perih.

IMG_0818-

Berhubung makanan di pulau mahal maka pemandu sudah mengusulkan untuk membawa makanan dari kota ke pulau. Kami sendiri sudah siap dengan bekal. Sangat disarankan jika membawa makanan dari daratan ke pulau maka sampah juga dibawa kembali ke daratan karena di pulau tidak ada pembuangan akhir. Ada kemungkinan sampah akan dibuang ke lautan, dimakan ikan, dan kita akan makan ikan yang memakan sampah yang kita buang. Kalau memang kita dan keluarga siap makan sampah sendiri, ya tidak apa-apa.

Pemandu sangat sigap dan menyiapkan kamera go pro untuk mendokumentasikan kegiatan. Dia juga akan mengarahkan gaya kami. Layanan yang diberikan memuaskan. Hari pertama ini cukup melelahkan karena banyak pulau yang dikunjungi. Selain itu, menaiki batu-batu besar dan menelusuri pulau-pulau kecil bukan perkara mudah, terutama bagi orang yang berumur. Artinya perlu menyiapkan fisik dan jika ada anggota tim yang lebih cepat lelah, maka orang tersebut tidak perlu memaksakan diri dan dapat menunggu di balai dekat pantai.

Di hari pertama itu kami juga mengunjungi pusat oleh-oleh sebelum istirahat ke penginapan. Kami menginap di Mustika Dua. Lokasinya berdekatan dengan ATM BCA dan Mandiri, ada juga apotek. Kamar jenis family lebih besar dan lebih nyaman. Koneksi internetnya cepat dan hotel bersih. Makan pagi seadanya, hanya satu jenis makanan misalnya mie goreng atau nasi goreng. Air putih galon dengan dispenser panas-normal disediakan di lobi bersama gula dan teh. Bagi yang ingin laundry, biayanya Rp 16.000/kilo (basah). Jika cuaca panas, sebaiknya dijemur di depan hotel karena mereka menyediakan satu jemuran kecil di luar.

Hari kedua, kami mengunjungi replika SD Muhammadiyah yang menjadi lokasi film Laskar Pelangi, kemudian ke rumah keong, museum kata Andrea Hirata (hanya di bagian depan karena tiket masuknya mahal), kampung Ahok, ke Manggar untuk makan siang, Vihara Dewi Kwan In, dan melihat sunset. Selama perjalanan, pemandu aktif menjelaskan kondisi desa yang dilalui. Ada banyak kemiripan dengan desa-desa di Sumatera pada umumnya. Bahkan seorang teman mengatakan hampir mirip dengan desanya di Palopo, Sulawesi Selatan.

Pertambangan timah masih ada tapi tidak sebesar pada masa kolonial Belanda dan di masa Orde Baru. Ada banyak bekas galian tambang yang berserakan. Sebagian tanah ditinggal tanpa ditutup atau diratakan kembali. Sudah banyak pohon kelapa sawit di kanan kiri jalan melengkapi komoditas lokal yaitu lada. Sektor pariwisata semakin berkembang sejak buku Laskar Pelangi menjadi terkenal. Potensi pantai di Belitung semakin banyak dikunjungi. Pantainya memang indah, bebatuannya saja sangat indah. Layak untuk dikunjungi.

Hari ketiga, kami diajak berkeliling kota. Tadinya mau ke museum tapi sayang belum buka. Akhirnya kami makan mie lagi di WanBie sebelum ke rumah adat dan Danau Kaolin dan ke bandara.

Selama dua hari itu, pihak travel menyediakan botol air mineral 1 kali (600ml) sehingga pengunjung perlu menyiapkan air minum tambahan sendiri. Makan siang dan malam, dan tips pemandu di luar harga paket. Perjalanan ke Belitung sangat berharga, apalagi kalau dilakukan dengan rombongan ukuran sedang. Silakan dicoba sendiri.

Bogor, 19 Maret 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.