Pengalaman-Saya

Sajadah yang dikencingi kucing

Repost from Bogor, 25 Mei 2018

Aku bingung memberi nama pada kedua kucingku. Ada rasa khawatir bahwa ketika aku memberi mereka nama maka aku mulai “memanusiakan” mereka dan mulai ada ikatan emosi yang semakin kuat. Pada akhirnya aku menamai mereka Klenting Kuning dan Klenting Hitam sesuai dengan warna bulu mereka. Jadi nama mereka “tidak terlalu manusia”.

Keduanya kadang menemukan kesempatan untuk masuk ke kamar tidur lalu bermain dengan sajadah. Mereka senang sekali bermain-main dengan sajadah, terutama rumbai yang ada di ujung sajadah. Mungkin ada sensasi berbeda di mulut dan kulit mereka. Bulu mereka menempel di sajadah sehingga akhirnya aku bawa sajadah itu keluar supaya mereka gunakan sebagai alas tidur. Tidak lama, sajadah itupun dikencingi oleh salah satu atau keduanya.

Aku baru mengetahui ini belakangan. Lalu aku merendam sajadah tadi. Sejenak aku tertegun. Warna air rendaman sangat keruh. Seingatku, belum pernah sajadah ini aku cuci. Begitu juga dengan sajadah yang lain. Jika tidak dikencingi kucing, sajadah ini mungkin selamanya tidak akan dicuci. Biyuh, begitu rupanya.

Kadang sesuatu yang dirusak kucing membuat aku kesal. Padahal kalau tidak rusak, mungkin aku tidak tahu kalau aku punya barang tersebut. Ya, aku jadi belajar. Kedua kucing ini memang hebat. Dia menginspirasiku untuk tertarik membaca tentang beberapa rescuer dan penampungan hewan yang ada di beberapa tempat. Tanpa mereka, aku mungkin tidak akan menghargai apa yang sudah aku miliki.

Leave a Reply

Your email address will not be published.