Pengetahuan-Saya

Gerakan feminis yang sehat

Ketika menjadi bagian dari gerakan feminis berarti aku juga harus bergerak, secara harfiah aku harus bergerak. Sejak lulus kuliah, berat badanku naik 2 Kg dan terasa sekali. Pakaian dalam menjadi lebih sesak. Aku berefleksi, apa yang berubah ketika kuliah dan setelah kuliah. Salah satunya ruang dan kesempatan bergerak.

Pada saat kuliah, aku masih harus naik tangga 3 sampai 4 lantai selama 4 hari dalam seminggu. Kadang aku bisa bolak-balik naik tangga karena suatu urusan, entah makan siang, fotokopi, ke dekanat, ke perpustakaan, dan lain-lain. Berbagai tempat di kampus dicapai dengan berjalan kaki. Masih nyaman karena berjalan bersama teman sambil ngobrol jauh lebih ringan daripada sendirian. Trotoar bagi pejalan kaki dan pohon-pohon yang rindang juga bersahabat bagi pejalan kaki.

Begitu selesai kuliah dan bekerja, semua itu berubah. Aku berangkat ke kantor dengan naik motor lalu dititip di penitipan sekitar stasiun. Kemudian berdiri di kereta listrik selama kurang lebih 50 menit. Berdiri lama melelahkan tapi tubuhku tetap tidak bergerak, hanya berayun ke kiri dan kanan mengikuti jalannya gerbong kereta dan kepadatan penumpang.

Turun dari stasiun, aku berjalan kaki sekitar 50 meter untuk naik ojek online. Selama di kantor, aku hanya duduk dan berdiri, melangkah sedikit. Kegiatan yang sama berulang ketika aku pulang ke rumah. Jadi praktis aku tidak bergerak. Aku tidak bisa berada dalam sebuah gerakan tetapi aku sendiri malas bergerak secara fisik.

Cita-cita ke depan, aku ingin lebih banyak bergerak fisik. Per Desember 2019, aku sudah memulai dengan rutin berjalan kaki. Target minimal 20 ribu langkah per minggu. Sepertinya itu sudah tercapai dan aku perlu menaikkan target. Aku juga sedang membatasi konsumsi makanan bergula tinggi dan daging (termasuk ikan). Diet ini bukan sebatas menurunkan berat badan. Aku sedang mencoba apakah gatal-gatal yang aku alami adalah psoriasis.

Aku memiliki bercak-bercak berwarna merah, bersisik di kulit. Ada tiga titik di bagian leher. Pada 2016, bertambah di daerah sekitar mata. Sampai sekarang, bercak-bercak itu kambuh dan kadang sembuh sendiri (tidak meradang). Hari ini aku menyaksikan tayangan video dari seorang dokter spesialis kulit dari Malaysia bahwa psoriasis bukan penyakit kulit tapi menyangkut masalah sistem kekebalan tubuh. Pemicunya antara lain infeksi, stres dan dingin. Perawatan yang disarankan oleh dokter adalah diet beberapa makanan agar sistem pencernaan menjadi lebih sehat dan imunitas tubuh menjadi lebih baik.

Aku akan mencoba perlahan dan bertahap karena pantangan mencakup makanan yang mengandung gula, susu dari hewan, dan daging hewan (termasuk ikan, udang). Atas saran seorang teman, aku juga akan mengkonsumsi Herbal Life yaitu Aloe Vera Concentrate. Alasannya sama, mendorong imunitas.

Resolusi tahun depan sudah jelas, mengendalikan diri dari makanan pemicu psoriasis dan bergerak untuk kesehatan jasmani dan rohani.

Bogor, 30 Desember 2019

Leave a Reply

Your email address will not be published.