Perjalanan-Saya

Seharusnya aku…

Seharusnya aku terlahir lebih cantik dari kondisi yang sekarang. Keyakinan itu ditanamkan oleh ibuku yang ketika hamil, selalu membayangkan artis cilik kenamaan tahun 1970an, Dina Mariana. Orang dulu percaya bahwa ketika seorang ibu yang sedang hamil membenci seseorang, maka rupa anaknya akan sama dengan orang yang dibenci. Mungkin maksudnya karma atau untuk mencegah seseorang untuk keterlaluan membenci orang lain. Namun, hukum genetika lebih kuat dari kepercayaan tadi. Alhasil aku lahir dengan rupa ala Sidoarjo, Jawa Timur karena kedua orang tuaku berasal dari daerah tersebut.

Seharusnya aku lahir di Desa Waung, Kecamatan Krembung, Kabupaten Sidoarjo, Provinsi Jawa Timur. Dengan begitu, aku bisa menghidu bau tebu dan menjadi sosok yang manis seperti gula. Aku mungkin akan tinggal lebih lama di desa dan terinspirasi menjadi petani seperti kakek dan nenek. Tapi ayah telah bermukim lebih dari 1 tahun ibukota Jakarta ketika aku lahir. Ayah mengadu nasib sebagai pedagang kain di Tanah Abang yang semrawut. Ibu menyusul ayah dan masih perempuan desa yang terkaget-kaget dengan lapisan emas di tugu monas. Semakin terkejut lagi karena di daerah asing ini dia harus membesarkan jabang bayi.

Seharusnya aku lahir di rumah kakek dan nenek yang bersahaja dengan lumbung padi di halamannya. Memang banyak tikus di dalam lumbung, tapi mereka pun berusaha menyambung hidup. Menjadi petani layaknya petaka. Ibuku bercerita kalau dia tidak suka ke sawah karena takut kulitnya terbakar matahari dan menjadi kasar. Mengolah tanah, menyemai bibit, dan memanen bukan impian perempuan muda kekinian di tahun 1960an. Ayahku seorang yatim dengan satu kakak laki-laki dan dua adik perempuan. Nenekku hanya sanggup menyekolahkannya sampai SMA. Itu saja sudah bagus sebagai modal melamar sebagai tentara atau polisi. Namun, ayah gagal dan banting setir menjadi pedagang. Hal ini kerap menjadi bahan diskusi panas dalam pertemuan keluarga. Aku pun lahir di sebuah puskesmas di daerah Petamburan, Jakarta Barat ketika ayah masih mengukur gulungan kain dengan tongkat meteran. Mak Sani tergopoh-gopoh menaiki bemo untuk memberitahu ayahku. Besoknya, aku sudah pulang ke haribaan rumah kontrakan di Gang Rambutan, Pesing, Jakarta Barat. Aku mulai mengakrabi bau selokan daripada buah mangga yang tumbuh di halaman rumah nenek.

Seharusnya badanku bisa lebih tinggi karena tinggi adik laki-lakiku 175 cm. Tetapi aku hanya 155 cm. Perbedaan ini mengganggu. Tetapi karena pendek, aku tidak perlu bercita-cita menjadi seorang polisi wanita atau pekerjaan lain yang menuntut syarat tinggi badan. Untungnya orang pendek bisa menjadi pustakawan.

Seharusnya aku menjadi akuntan atau bidan jika mengikuti kemauan orang tua. Dua pekerjaan itu dianggap cocok untuk perempuan dan akan membuat hidupku mapan. Memang takdir. Sampai sekarang pun aku masih bingung membuat jurnal keuangan dan bagusnya aku tidak lelah belajar. Aku memang dipaksa belajar dan berdagang. Jika aku mapan, mungkin aku tidak terpikir untuk membuat usaha sendiri. Salah satu capaian besarku adalah membangun usaha sendiri dan mempekerjakan teman-teman yang memerlukan pekerjaan.

Seharusnya tidak perlu berandai-andai karena jika apa yang seharusnya terjadi, aku tidak akan ada di sini dan menulis cerita ini. Jika seharusnya menjadi keharusan, aku mungkin tidak perlu kebebasan dan tidak perlu ketidakpastian. Seharusnya aku terus menulis sampai tulisan ini menjadi novel, tetapi aku berhenti karena aku yang sekarang merasa lebih senang mengetik tanda titik.

Bogor, 4 Oktober 2017

Leave a Reply

Your email address will not be published.