Pengalaman-Saya

Little Missy

Hari ini aku ingin menulis tentang Little Missy, telenovela pertama yang cerita utamanya masih menempel di ingatanku. Entah kenapa, aku masih ingat cerita ini. Ketika aku mulai kuliah dan internet baru masuk, aku mencari informasi tentang telenovela ini dan mendapat lebih banyak informasi. Satu momen yang mendorong aku mencari informasi di internet adalah ketika aku menemukan buku dengan cover wajah pemeran Little Missy di bazar buku murah di kampus. Aku baru tahu kalau telenovela itu diangkat dari buku berjudul Sinha Moca yang ditulis Maria Dezonne Pacheco Fernandes. Penulis perempuan. Wow!

Belajar tentang perbudakan

Pada waktu Little Missy tayang, seingatku hanya ada 1 stasiun televisi yaitu TVRI. Itu di akhir 80an. Aku masih berusia sekitar 9 tahun. Mungkin karena aku masih kecil jadi mudah mengingatnya. Selain itu, ceritanya sangat menyentuh. Aku mengenal tentang perbudakan dari telenovela ini.

Sebagai anak kecil yang tidak paham perbudakan, aku memahami telenovela ini sebagai cerita cinta dan keluarga. Karakter utama dalam cerita ini, menurutku ada 4, Baron (ayah Little Missy), Little Missy, Rodolfo (pacar Little Missy), dan Dimas (yang aku asumsikan adik tiri dari Little Missy). Untuk plot dan karakter aslinya bisa dicari sendiri di internet. Aku hanya ingin menuliskan kesanku dari film ini.

Kesan pertama, film ini mengisahkan Baron (ayahnya Little Missy) memperkosa ibu Dimas, seorang budak yang tinggal di dalam rumah, seperti pekerja rumah tangga. Di film ini kekerasan tersebut disampaikan dengan cara implisit. Kemudian perempuan itu hamil dan anaknya, seorang mulatto atau campuran kulit hitam dan putih, menjadi teman bermain Little Missy bernama Dimas. Sampai suatu hari ketika Dimas masih kecil, seingatku di bawah 10 tahun, dia dijual ke Baron lain. Ibunya patah hati, sedih sekali, dan dendam ke Baron. Ini interpretasiku ketika menonton film ini. Entah kenapa, aku ingat sekali adegan ketika Dimas dipaksa naik kereta kuda dan diangkut ke pemilik barunya. Dimas ini anaknya sendiri dan Baron, entah menjual atau menitipkannya ke orang lain.

Aku juga ingat adegan pasca kepergian Dimas, para budak yang berada di pondok ikut merasa sedih, marah, kecewa, dan sakit hati. Dari film itu, aku baru tahu bahwa para budak tinggal bersama di satu pondok, semua bercampur, laki-laki, perempuan, dan anak-anak. Satu pondok diisi banyak orang.

Keluarga yang terpisah

Adegan lain yang masih aku ingat adalah pertemuan Little Missy dengan Dimas di sebuah cafe. Little Missy senang sekali bertemu teman lamanya. Dalam prosesnya, Little Missy mengetahui bahwa Dimas adalah adik tirinya. Kalau tidak salah, ibu Little Missy sendiri yang memberitahunya. Jadi aku melihatnya sebagai cerita tentang keluarga yang terpisah, yang terluka, dan berusaha memulihkan luka itu.

Cerita ini kental dengan unsur politik. Aku heran bisa diputar di TVRI. Dalam cerita, Little Missy dan Rodolfo adalah abolisionis atau pendukung gerakan pembebasan budak. Dimas juga bergabung dalam gerakan ini. Mereka kemudian bekerja sama memaksa masuk ke pondok tempat para budak tinggal dan membebaskan penghuninya. Pelaku yang mengeksekusi pemberontakan ini adalah Rodolfo. Alhasil terjadi kekacauan dan Baron marah besar, terutama ke abolisionis. Kalau tidak salah, dia akhirnya tahu bahwa Little Missy menjadi bagian dari abolisionis.

Seingatku, film ini pernah diputar ulang di stasiun TV pada tahun 200an, tapi aku sudah tidak tertarik menontonnya lagi. Film ini bagus dan sayangnya aku juga tidak tertarik untuk membaca bukunya. It must be a great book!

Leave a Reply

Your email address will not be published.