Pengetahuan-Saya

Kpop, fandom, dan delulu

Aku baru 5 bulan menyukai musik dari musisi Korea atau yang lebih dikenal Kpop. Awal mulanya Devina bercerita tentang anak perempuannya yang masih SMP kelas 1 berniat menabung untuk bisa menonton band Kpop yang akan datang ke Indonesia. Harga tiketnya sekitar 1 juta dan tentu Devina tidak bisa menyediakan uang sebesar itu untuk anaknya. Aku baru ahu nama band yang akan konser itu adalah NCT 127. Waktu itu aku penasaran dengan Kpop. Kok bisa keponakanku suka dengan Kpop, apa sih istimewanya? Bukannya mereka menyanyi dengan Bahasa Korea? Lalu, apakah keponakanku ini paham dengan Bahasa Korea?

Aku mencari di internet dengan kata kunci kpop dan salah satu yang muncul pertama adalah nama band BTS. Aku tidak tahu kepanjangannya apa. Setelah tahu nama band, aku beralih ke Youtube untuk menonton video musik mereka. Aku terkejut karena music video (MV) mereka bagus dan musiknya campuran hip hop dan rock. Aku tetap tidak paham lirik mereka dan aku belum peduli. Melodinya bagus dan tariannya keren. Aku makin penasaran. Dulu ketika Psy sedang tren dengan Gangnam Style, aku tidak penasaran. Tariannya lucu tapi tidak keren dan sepertinya orang awam, tanpa keterampilan menari, bisa melakukannya.

Karena BTS adalah band Kpop pertama yang aku kenal. Aku mencari informasi lebih jauh tentang anggotanya. Berhubung aku suka dengan kemampuan tari freestyle dan selera cowokku adalah yang kurus, tinggi, dan tidak tampan secara mainstream maka aku suka dengan J-Hope. Aku mulai menambahkan lagu-lagu BTS ke playlist di akun spotify. Aku mencari MV BTS di Youtube dan mulai menjadi pelanggan di Twitter, Youtube, dan Instagram. Setelah hampir 2 bulan rajin menonton siaran BTS dari akun resmi dan tidak resmi, aku mulai bisa membedakan satu anggota dengan yang lain dan mengenal kepribadian masing-masing, terutama kepribadian di atas panggung atau di ruang publik.

Setelah beberapa bulan, aku juga paham kekuatan ARMY yaitu nama yang diberikan BTS kepada fans mereka. Sebagai merek dagang, BTS sudah dikenal secara internasional dan beberapa kali mengadakan konser di Asia Tenggara, Eropa, Amerika Selatan, Amerika Serikat, bahkan di Arab Saudi. Per akhir 2019, BTS menjadi salah satu band Kpop dengan jumlah fans yang besar di banyak negara. Kalau di zamanku, New Kids On The Block (NKTOB) dari Amerika terkenal banget sebagai boyband. Kemudian muncul Boyzone dan Take That dari Inggris lalu Backstreet Boys. Sampai terakhir ada One Direction. Dari zaman NKTOB sampai One Direction, aku belum pernah jadi fans atau ikut ke dalam fandom. Aku biasanya senang dengan lagu-lagu mereka belakangan, ketinggalan banget. Jadi aku pernah suka lagu Backstreet Boys sekitar 5 bulan setelah lagu itu populer. Begitu juga dengan BTS.

Aku hampir tidak pernah mendengarkan lagu Kpop atau terdorong mencari informasi tentang Kpop. BTS sudah konser di Indonesia tahun 2017 dan terkenal di berbagai negara sejak 2016, aku baru dengar lagu mereka awal 2020. Sebenarnya aku mulai kenal dengan wajah anggota BTS sejak 2019. Itu pun karena wajah mereka menjadi halaman pembuka Tokopedia. Dulu aku bingung, tiap buka Tokopedia, langsung muncul halaman dengan wajah 7 orang cowok-cowok manis entah dari negara mana dan entah mereka ini siapa. Rupanya BTS menjadi brand ambassador Tokopedia karena ARMY di Indonesia sangat besar. Per Maret-April 2020, ARMY Indonesia adalah penyumbang ciutan BTS paling besar diikuti oleh Brazil dan Amerika Serikat.

Aku semakin tertarik dengan fenomena Kpop dan segala pernak-perniknya, seperti pemberian nama fandom, lightstick, sasaeng, daesang, leader, maknae, visual, dancer line, sub-unit, dan lain-lain. Ada banyak konsep dan teori di Kpop. Aku juga membaca berbagai kritikan yang diberikan ke Kpop. Misalnya industri Kpop itu seperti halnya manufaktur yang memproduksi penyanyi dan penari. Seperti halnya perusahaan yang memperlakukan rekrutmen baru sebagai management trainee, Kpop juga melakukan rekrutmen atau istilahnya audisi mencari bakat di berbagai kota bahkan di luar Korea Selatan. Mereka yang lulus audisi kemudian menjadi trainee yang durasinya bervariasi dari beberapa bulan sampai sekitar 6 tahun. Ada juga yang sampai 10 tahun. Perusahaan membiayai asrama, guru vokal, latihan tari untuk trainee. Para trainee ini akan dipantau kemudian dibuatkan unit atau band. Satu band bisa berisi 3 sampai 12 anggota, tapi sejauh ini aku lihat rata-rata 5-7 orang.

Kemudian ada kritik tentang fanatisme terhadap anggota band yang dibangun secara tidak sehat. Berhubung perusahaan rekaman sudah menginvestasikan uang dalam jumlah besar, mereka berusaha balik modal dengan mengikat trainee yang sudah debut untuk masa kontrak sekitar 7 tahun. Aku baca di artikel majalah online yang mengutip YG Entertainment, salah satu perusahaan musik, bahwa biaya melatih 1 orang sekitar $81,000 per tahun 2018. Di beberapa perusahaan musik yang lebih kecil ada yang namanya trainee debt atau trainee fee di mana anggota band yang sudah debut harus mengembalikan biaya tersebut. Untuk menggenjot pemasaran, fandom menjadi salah satu cara untuk mengikat hubungan antara anggota band dengan fans. Kemudian dibangun fantasi bahwa anggota band itu milik fans, suami dan istri dari fans. Jadi kalau anggota band diketahui pacaran, khayalan atau istilah Kpop-nya delulu (delusi) itu akan hancur dan bisa merusak pemasaran.

Masih banyak yang seru dari industri Kpop. Aku akan membahasnya pelan-pelan sambil menyelesaikan pekerjaan.

Leave a Reply

Your email address will not be published.