Pengetahuan-Saya

Membaca kembali

Setelah hampir 3 bulan bekerja dari rumah sepenuhnya, aku berhasil membaca buku. Sebagai hadiah Lebaran, aku meminta hadiah 3 buku dari Ahmad Tohari ke suami. Aku beli di Tokopedia dengan harga 168 ribu. Dua buku sudah aku selesaikan dalam waktu kurang lebih 5 hari. Ada rasa puas dan senang bisa menyelesaikan dua buku. Ada beberapa alasan.

Pertama, aku puas akhirnya bisa membeli buku dan membacanya sampai selesai karena kadang-kadang aku beli buku karena tertarik dengan judul, cerita, dan pengarangnya tapi tidak segera dibaca. Bisa jadi buku itu tersimpan sekian lama di rak buku dan terlupakan. Kejadian ini tidak hanya pada satu atau dua buku, beberapa buku bisa jadi mendapat nasib yang sama. Aku tuh kasian kalau buku-buku tidak dibaca. Minimal ada beberapa bab yang dibaca kalau tidak bisa dibaca dari awal sampai akhir.

Kedua, keberhasilan membaca buku dalam waktu kurang lebih 5 hari merupakan hasil dari mendisiplinkan diri untuk tidak terus membuka media sosial. Semakin sulit untuk tidak terganggu dengan notifikasi media sosial dan menyelesaikan proses membaca. Menonton media sosial menyempitkan imajinasiku. Dengan membaca, aku belajar menjadi berempati dan menjadi “sutradara” yang menginterpretasi cerita yang aku baca. Membaca sangat membantu refleksi keseharian. Membaca juga memerlukan disiplin untuk konsentrasi, tidak sambil mendengarkan musik atau melakukan hal lain. Tidak heran kalau ada orang yang mengatakan bahwa membaca itu keistimewaan karena seseorang perlu diam dan berada dalam seluruh karakter yang dibacanya.

Ketiga. Ini buku Ahmad Tohari. Aku jatuh cinta dengan cara dia bercerita dan mendeskripsikan karakter orang desa dan alam desa. Pertama kali aku membaca novelnya ketika kuliah S1 dan membeli bukunya di pameran buku di Gramedia Palmerah. Sekitar tahun 2000. Kalau tidak salah, itu pun atas saran dosen penulisan sastra populer di UI untuk memperbaiki tulisanku yang miskin deskripsi dan imajinasi. Semakin jatuh cinta dengan fiksi setelah membaca Burung-burung Manyar dari Y.B. Mangunwijaya dan buku-bukunya yang lain.

Sebagai anak kota yang terlahir dari orang tua dari desa di Krembung, Kabupaten Sidoarjo, aku merasa terbantu dengan bacaan Ahmad Tohari untuk merasakan apa yang dilihat dan dialami oleh orang tuaku. Lahir dan besar di Jakarta bukan pilihanku. Paling tidak aku merasa senang bisa mengalami perubahan Jakarta sejak 1980an sampai 2010.

Ada satu buku lagi yang sedang aku baca. Aku harus kembali ke bacaan. Sampai ketemu di tulisan yang lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.