Pengalaman-Saya

Suara kurang ajar!

Kalau diingat lagi ke belakang, sepertinya sejak 2010 aku mulai mengalami kesulitan untuk menulis puisi. Iya, puisi yang menurut orang kebanyakan permainan kata dan curhat versi ringkas.

Kalau tidak salah ingat, aku mulai menulis puisi ketika kelas 5 SD. Gara-garanya aku membaca buku Setanggi Timur karya Amir Hamzah di perpustakaan keliling. Seimut itu aku membaca Setanggi Timur dan aku dibuat galau. Meskipun aku tidak sepenuhnya paham dengan puisi Amir Hamzah tapi ada perasaan geli dan semilir angin di dada ketika membacanya. Persis perasaan ketika orang jatuh cinta.

Duh, Setanggi Timur. Sudah berapa tahun aku tidak membacanya? Kangen. Aku ingin dibuat jatuh cinta lagi. Aku ingin merasakan geli digelitik rasa dingin yang nyaman. Lagi. Membaca puisi itu lucu karena aku akan senyum dan tertawa sendiri. Ya karena geli tadi.

Ada apa dengan 2010? Aku menikah dengan seorang laki-laki pilihan sendiri di awal tahun itu. Hubungan pernikahan yang sudah berjalan 10 tahun sekarang. Tapi masak sih aku mau menyalahkan pernikahanku. Tidak sepenuhnya. Setahun setelahnya aku pindah hidup di Kota Malang, membangun hidup di tempat dan suasana baru. Aku berwirausaha dan bekerja jarak jauh. Aku banyak berefleksi tentang hidup dengan almarhumah Maria Mustika. Aku sibuk mengurus kewarasan jiwaku. Aku berkutat mengontrol diri untuk tidak menilai orang lain. Aku bergelut untuk menjadi mandiri secara keuangan. Di tengah perjuangan itu, aku membangun komunitas di Kota Malang dan menjalin persahabatan baru. Semua itu melelahkan dan menyejukkan.

Tahun 2013 aku mengikuti pelatihan menulis yang dibuat oleh lembaga tempat aku bekerja. Aku sempat mengatakan ke mentor tentang kesulitanku menulis puisi lagi. Dia mengatakan aku memerlukan ruang sunyi, bukan sepi, sunyi. Ruang refleksi yang sunyi agar bisa mendengar lebih dekat suara di dalam batin. Suara yang teredam dan terendam di tengah hiruk-pikuk kehidupan fana. Dia tertimbun berbagai kerusuhan suara-suara lain.

Aku juga sangat kritis kepada diriku sendiri. Ketika menulis suatu frase, akan ada suara batin yang mengatakan, “Aduh, itu norak banget. Kamu kan bukan anak SMA lagi. Itu gak ada nilai sastranya banget.” Kemudian aku menghapusnya. Mencari pilihan kata yang lain dan menjatuhkannya lagi. Begitu terus. Aku bingung, dari mana sumber suara itu.

Ada suara yang berusaha berontak. “Memangnya kenapa kalau norak dan unyu? It just who you are. You write the way you feel you want to write it.” Tapi tetap saja aku kesulitan karena aku takut dan khawatir dengan penilaian diriku sendiri. Aku mensensor diriku dengan sangat kejam. Aku tidak paham.

Kalau sulit, kenapa aku masih ingin menulis puisi? Karena sebelumnya aku sudah menulis banyak puisi. Aku tahu aku bisa. Aku merasa cacat karena ada indera yang hilang ketika tidak bisa menulis puisi lagi. Aku merindukan rasa lega dan ikhlas yang lahir setelah puisi purna. Tetapi sulit untuk menulis apa adanya. Diriku sendiri menyepelekan setiap kata dan membubarkan setiap harapan.

Aku mau berusaha lagi. Aku harus mencari ruang sunyi agar bisa mendengar suara samar dari batin terdalam. Suara yang akan mengatakan, “Ngapain kamu baca lagi? Tulis aja sampai selesai!”

Bogor, 22 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.