Perjalanan-Saya

Buntelan kecil

Aku ingin cerita tentang kucing lagi. Sekitar 5 minggu lalu aku berjalan kaki di pagi hari. Olahragaku seperti biasa. Aku biasa ambil rute ke Cimanggu Wates lalu ke jalan besar, Jl. Iskandar Soleh kemudian masuk ke perumahan Budi Agung. Waktu itu sudah berjalan kebijakan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) di Kota Bogor. Lalu lintas tidak begitu ramai pukul 6.30.

Pada saat aku berjalan di Jl. Iskandar Soleh, sekilas aku melihat ada sebongkah bulu bergerak. Hampir tidak terlihat saking kecilnya dan tidak ada suara. Otomatis saja, aku berhenti dan mengamati lebih baik. Rupanya anak kucing 3 warna bergelung kedinginan. Aku melihat sekeliling untuk mencari induknya. Masalahnya aku tidak melihat kucing dewasa, apalagi kucing betina. Aku lihat dia lemah dan pasrah. Aku merasa tergerak menyelamatkannya. Sempat ragu karena pengalaman menyelamatkan 4 anak kucing lalu semuanya mati dengan cara-cara berbeda. Waktu itu aku masih di rumah kontrakan yang jalan di depan rumah sangat ramai.

Buntelan kecil

“Tapi ini kan cuma satu kucing”, batinku bicara. Suamiku pasti tidak suka, tapi bagaimana, masak buntelan kecil ini mau ditinggal? Ya sudahlah, aku keluarkan tas belanja dan aku gelung tubuh mungil kucing itu di dalamnya. Dalam perjalanan ke rumah, aku beli susu beruang dan whiskas junior.

Awalnya kucing itu sulit makan. Aku bingung. Anak kucing itu juga bersin-bersin. Aku menunggu satu minggu sebelum membeli obat flu dan obat mata pasaran. Masa tunggu satu minggu itu untuk melihat apakah dia masih hidup atau tidak. Jujur saja aku pesimis dia dapat terus hidup, karena dia sulit minum dan makan. Sampai 10 hari kemudian, anak kucing itu masih hidup. Baiklah, aku belikan obat, termasuk obat cacing. Aku tidak berani membawa dia ke dokter hewan khawatir dengan biayanya.

Meskipun punya pengalaman merawat anak-anak kucing, aku masih belum paham cara melatih anak kucing untuk poop dan buang air kecil di pasir. Aku juga tidak mau menghabiskan biaya untuk membeli pasir gumpal. Aku pakai alas popok yang aku letakkan di kamar sebelah. Suamiku paling jijik dengan poop kucing. Akhirnya anak kucing itu menjadi tanggung jawabku sepenuhnya.

Pipis di sofa

Satu minggu terakhir, anak kucing itu lebih banyak menghabiskan waktu di luar rumah karena dia pipis di atas sofa yang terbuat dari kain. Sofa itu punya suamiku jadi dia uring-uringan sofanya dikencingin kucing. Ya sudah, aku menyerah. Tapi aku tetap memberinya makan dan minum tapi anak kucing itu main dan tidur di luar.

Alhamdulilah, kondisi matanya lebih baik meskipun masih terus keluar kotoran. Dia juga masih bersin. Ya, dia masih hidup saja aku sudah senang. Semoga kondisinya bisa terus membaik.

Leave a Reply

Your email address will not be published.