Perjalanan-Saya

Berbagai masalah fandom

Di internet ada berbagai tulisan yang membahas tentang berbagai masalah dengan fandom. Aku sendiri baru mengenal fenomena fandom dan terkejut dengan berbagai konten yang aku temukan baik di media sosial maupun di blog. Berhubung aku sedang senang mendengarkan BTS, GOT7, dan Monsta X, maka penilaianku berdasarkan pengamatan di tiga band itu. Aku sadar memang ada bias K-pop.

Kebanyakan fans ingin melihat band idola mereka mendapat pengakuan. Namun, banyak anggota fandom yang begitu terobsesi dengan ide bahwa band mereka harus menjadi yang teratas dengan cara memandang rendah band atau artis lain. Apalagi kalau fandom itu sadar bahwa mereka memiliki jumlah massa yang besar dan menggunakan kekuatannya tersebut untuk “membungkam” suara kritik dari pihak lain. Salah satunya dengan melaporkan akun media sosial yang dianggap menghina atau dinilai sebagai anti band idolanya. Ketika aku baca beberapa akun atau komentar yang dilaporkan, aku merasa isinya sebagai kritikan umum.

Aku membaca sebuah website yang membahas tentang penyakit psikologis yang banyak dialami fans garis keras, dan ini tidak terbatas pada fans K-pop. Di atas sudah dibahas tentang pemujaan berlebihan, ditambah pembelian barang-barang idola secara berlebihan dan mengalami delusi erotomania yaitu menganggap sang artis menyukai dirinya. Dari beberapa tulisan, aku membaca fenomena ini lebih banyak terjadi pada fans remaja. Zamannya beda kali ya. Waktu aku remaja, aku tidak pernah menjadi fans garis keras dari artis tertentu. Aku memang kurang bergaul tapi aku bisa bertahan tanpa menjadi fans artis tertentu. Aku lebih banyak mencurahkan stres dan frustasi dengan cara menulis puisi dan membaca buku sastra. Apakah sampai sekarang masih ada perpustakaan keliling?

Khusus untuk band K-pop, aku melihat setiap agensi membuat reality show masing-masing. Untuk BTS, aku lihat mereka sering update reality show atau behind the scene dari konser atau keseharian mereka. Jadi agensi juga memanjakan (atau men-supply) konten yang begitu banyak untuk fans dengan tujuan menjaga kedekatan antara anggota band dengan para fans. Namanya konten kalau sudah dipublikasi bisa diinterpretasi atau diteorikan macam-macam oleh fans. Salah satunya shipping atau membayangkan dua orang atau lebih memiliki hubungan romantis atau platonis. Kalau yang aku amati, shipping yang dilakukan ada yang berdasarkan cocoklogi (segala macam dihubun-hubungkan) dan ada yang interpretasi dari bahasa tubuh si idola. Menarik kalau melihat bagaimana fans menginterpretasikan dan membandingkan bahasa tubuh idolanya.

Terkait shipping, ada artikel bagus yang dimuat di https://magdalene.co/story/fetishizing-gay-relationship-when-ship-and-fan-fiction-turn-toxic yang membahas tentang fetish relasi gay. Sudah lazim kalau satu band K-pop terdiri dari satu jenis kelamin, jadi kalau tidak boyband ya girlband. Jumlah anggota di satu band rata-rata 5 sampai 8 orang. Masa latihan atau trainee mereka juga bervariasi, bisa 2-4 tahun dan biasanya dimulai ketika anggota masih berusia remaja yaitu 14 atau 15 tahun. Sebagian memulai di usia 17 tahun. Jika melihat sistem trainee di Korea, biasanya para trainee tinggal bersama di satu apartemen dengan beberapa kamar. Hal yang biasa juga jika satu kamar diisi dua orang. Bukan hal yang luar biasa kalau kemudian antar anggota ada hubungan yang istimewa atau bahkan sampai berkembang jadi hubungan pacaran. Masalah yang dibahas dalam artikel Madgalene adalah banyak fans yang membuat fiksi, baik berupa gambar atau cerita, tentang hubungan romantis dan seks antar dua orang laki-laki atau perempuan sebenarnya tidak mendukung hak-hak LGBTQ. Artikel itu menulis bahwa, “The same people who appropriate gay relationship also have internalized homophobia. For them, a gay relationship is nothing more than mere entertainment to satisfy their fantasy.” Silakan dibaca artikel untuk mengetahui analisis lebih lengkap.

Aku merasa harus banyak membaca tentang fenomena fandom karena aku baru mengenalnya dan ingin bertindak lebih bijak. Aku sendiri kadang merasa tidak nyaman membaca komentar dan fan-fic fans di Youtube, Instagram, dan Twitter. Makanya aku mendorong diri untuk menuliskannya di blog. Paling tidak aku bisa menuliskan pengalamanku berhubungan dengan fandom.

Bogor, 31 Mei 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.