Pengetahuan-Saya

Mengalami feminisme

Sudah bukan hal yang aneh ketika ada orang yang bertanya, bahkan mendesak, untuk menjelaskan tentang ‘Apa itu feminisme?”. Di dalam pertanyaan itu tersirat harapan untuk diberikan definisi yang singkat dan padat dalam satu atau lebih kalimat yang membantu orang tersebut membangun argumen dan menentukan sikap mendukung atau tidak feminisme. Dengan penjelasan yang diberikan, si penanya juga secara tidak langsung ingin menilai diri kita, feminis, dengan gambaran tertentu, bisa baik bisa buruk. Masalahnya, feminisme bukan satu perkara yang sudah selesai.

Ide-ide feminis tidak muncul di Barat atau dimulai oleh perempuan kulit putih. Namun, sebagai sebuah tulisan kritis dan sebuah gerakan yang terorganisir, istilah feminisme dimulai oleh perempuan kulit putih pada awal 1900 sampai dengan 1960an sebagai gerakan “pembebasan kontemporer”. Kenapa perempuan kulit putih? Karena mereka punya privilege mengakses penerbitan, ruang publik, pendidikan, perpustakaan, dan media. Feminisme sebagai sebuah pemikiran kritis memiliki sejarah yang panjang tetapi seringkali tidak tampak atau terangkat di media arus utama karena tulisan-tulisan perempuan banyak yang dipinggirkan atau diasingkan. Akibatnya para penulis feminis yang karyanya bagus tetap terisolasi.

Feminisme sering dikatakan bermula dari perbedaan biologis dan pengalaman hidup yang berakibat pada perbedaan cara pandang terhadap dunia. Perbedaan itu berakibat munculnya perbedaan nilai, prioritas, dan keberpihakan. Oleh karena itu, sebagian feminis mengatakan bahwa pengalaman khas perempuan sebagai seorang ibu dan dibesarkan oleh ibu melahirkan prioritas yang berbeda dari laki-laki. Karakter ibu yang dituntut oleh masyarakat untuk melakukan kerja pengasuhan dianggap berkontribusi dalam membentuk perempuan yang cenderung menghindari kekerasan dan penghancuran sebagai cara mencapai sebuah tujuan. Feminis Jean Grimshaw mengatakan tidak ada yang salah dengan konsep ini tetapi menurutnya ada masalah dengan pemahaman tersebut. Ada 3 masalah yang dia sampaikan:

  1. Generalisasi atau asumsi palsu bahwa perbedaan tersebut bersifat menetap (given) dan alami sehingga tidak lagi mempertimbangkan bahwa perbedaan cara pandang perempuan dan laki-laki ikut dipengaruhi oleh perbedaan sejarah, kelas, etnik, dan aspek sosial politik lain.
  2. Memandang cara pandang perempuan sebagai suatu hal yang ideal atau superior. Artinya cara pandang ini tetap berangkat dari pola pikir biner bahwa satu karakter lebih baik dan lebih penting dari hal lain. Seringkali cara berpikir ini digunakan untuk membuat oposisi antara perempuan baik-baik dan perempuan buruk (good woman vs bad woman) karena ada perempuan yang dianggap ideal dan tidak ideal. Cara ini justru memecah gerakan perempuan.
  3. Sebagai akibat dari poin 1 dan 2, ada anggapan bahwa cara pandang laki-laki harus ditolak sepenuhnya. Ada pula anggapan bahwa cara pandang perempuan hanya dapat lahir dari pengalaman seseorang sebagai seorang perempuan secara biologis. Padahal ada realitas ketika seorang trans-puan (transgender perempuan; perempuan yang berada di tubuh laki-laki) menjalani sebagian dari pengalaman khas perempuan. Ada pula pandangan bahwa selalu ada sisi feminin dari setiap individu dengan kadar yang berbeda. Artinya pengalaman perempuan dapat dialami oleh laki-laki dan transgender.

Pengalaman aku dengan feminisme dimulai dari realitas terlahir sebagai anak perempuan yang dibesarkan oleh seorang perempuan kelas menengah ke bawah. Mungkin banyak orang yang merasa terjebak dengan dikotomi karir atau keluarga, dengan kata lain perempuan dikondisikan oleh masyarakat untuk memilih antara bekerja/berkarir di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga. Ibuku sebagai perempuan kelas menengah tidak pernah merasa pilihan itu berlaku untuknya. Pertanyaan itu pasti sempat terlintas tapi muncul pertanyaan lain yang jauh lebih penting. Bagaimana supaya anakku bisa bayar iuran sekolah? Dari mana aku bisa dapat uang untuk jajan dan ongkos anak-anak? Sebentar lagi Lebaran, anak-anakku mau dibelikan hadiah apa?

Realitas yang dialami ibuku dan banyak perempuan lainnya yang membentuk feminisme. Seperti yang disampaikan di atas, pengalaman perempuan tidak seragam karena dipengaruhi oleh identitas sosial seperti usia (generasi), kelas, etnik, dan pandangan politik. Oleh karena itu, feminisme memiliki berbagai aliran dan berubah dari masa ke masa karena mengikuti perubahan realitas perempuan dan relasi kuasa gender.

Ada anggapan bahwa feminisme berusaha mengubah karakter perempuan agar memiliki karakter yang sama dengan laki-laki. Anggapan ini tidak benar karena itu berarti menilai bahwa laki-laki secara anatomi dan fisiologi adalah sosok manusia ideal kemudian perempuan didorong untuk mencapai standar tersebut dengan cara mengabaikan atau meremehkan anatomi dan fisiologi perempuan. Cara berpikir ini juga merendahkan peran pengasuhan dan kerja domestik, serta mengasosiasikan feminitas dengan kelemahan. Feminisme memprotes pembedaan bukan perbedaan. Pembedaan perlakuan sosial melahirkan ketidakadilan dan penindasan yang dialami perempuan. Ketidakadilan itu berakibat panjang dan sistematis pada hidup perempuan.

Feminisme sering dikatakan bermula dari perbedaan biologis dan pengalaman hidup yang berakibat pada perbedaan cara pandang terhadap dunia. Perbedaan itu berakibat munculnya perbedaan nilai, prioritas, dan keberpihakan. Oleh karena itu, sebagian feminis mengatakan bahwa pengalaman khas perempuan sebagai seorang ibu dan dibesarkan oleh ibu melahirkan prioritas yang berbeda dari laki-laki. Karakter ibu yang dituntut oleh masyarakat untuk melakukan kerja pengasuhan dianggap berkontribusi dalam membentuk perempuan yang cenderung menghindari kekerasan dan penghancuran sebagai cara mencapai sebuah tujuan. Feminis Jean Grimshaw mengatakan tidak ada yang salah dengan konsep ini tetapi menurutnya ada masalah dengan pemahaman tersebut. Ada 3 masalah yang dia sampaikan:

Generalisasi atau asumsi palsu bahwa perbedaan tersebut bersifat menetap (given) dan alami sehingga tidak lagi mempertimbangkan bahwa perbedaan cara pandang perempuan dan laki-laki ikut dipengaruhi oleh perbedaan sejarah, kelas, etnik, dan aspek sosial politik lain.

Memandang cara pandang perempuan sebagai suatu hal yang ideal atau superior. Artinya cara pandang ini tetap berangkat dari pola pikir biner bahwa satu karakter lebih baik dan lebih penting dari hal lain. Seringkali cara berpikir ini digunakan untuk membuat oposisi antara perempuan baik-baik dan perempuan buruk (good woman vs bad woman) karena ada perempuan yang dianggap ideal dan tidak ideal. Cara ini justru memecah gerakan perempuan.

Sebagai akibat dari poin 1 dan 2, ada anggapan bahwa cara pandang laki-laki harus ditolak sepenuhnya. Ada pula anggapan bahwa cara pandang perempuan hanya dapat lahir dari pengalaman seseorang sebagai seorang perempuan secara biologis. Padahal ada realitas ketika seorang trans-puan (transgender perempuan, laki-laki merasa terlahir sebagai perempuan) menjalani sebagian dari pengalaman khas perempuan. Ada pula pandangan bahwa selalu ada sisi feminin dari setiap individu dengan kadar yang berbeda. Artinya pengalaman perempuan dapat dialami oleh laki-laki dan transgender.

Pengalaman aku dengan feminisme dimulai dari realitas terlahir sebagai anak perempuan yang dibesarkan oleh seorang perempuan kelas menengah ke bawah. Mungkin banyak orang yang merasa terjebak dengan dikotomi karir atau keluarga, dengan kata lain perempuan dikondisikan oleh masyarakat untuk memilih antara bekerja/berkarir di luar rumah atau menjadi ibu rumah tangga. Ibuku sebagai perempuan kelas menengah tidak pernah merasa pilihan itu berlaku untuknya. Pertanyaan itu pasti sempat terlintas tapi muncul pertanyaan lain yang jauh lebih penting. Bagaimana supaya anakku bisa bayar iuran sekolah? Dari mana aku bisa dapat uang untuk jajan dan ongkos anak-anak? Sebentar lagi Lebaran, anak-anakku mau dibelikan hadiah apa?

Realitas yang dialami ibuku dan banyak perempuan lainnya yang membentuk feminisme. Seperti yang disampaikan di atas, pengalaman perempuan tidak seragam karena dipengaruhi oleh identitas sosial seperti usia (generasi), kelas, etnik, dan pandangan politik. Oleh karena itu, feminisme memiliki berbagai aliran dan berubah dari masa ke masa karena mengikuti perubahan realitas perempuan dan relasi kuasa gender.
Ada anggapan bahwa feminisme berusaha mengubah karakter perempuan agar sama dengan laki-laki. Anggapan ini tidak benar karena itu berarti menilai bahwa laki-laki secara anatomi dan fisiologi adalah sosok manusia ideal kemudian perempuan didorong untuk mencapai standar tersebut dengan cara mengabaikan atau meremehkan anatomi dan fisiologi perempuan. Feminisme memprotes pembedaan bukan perbedaan. Pembedaan perlakuan sosial melahirkan ketidakadilan dan penindasan yang dialami perempuan. Ketidakadilan itu berakibat panjang dan sistematis pada hidup perempuan. Salah satunya kemarahan.

Marah dan merasa terdesak menjadi titik penting dalam perjuangan gerakan feminisme, sama halnya dengan perjuangan hak kulit hitam dan masyarakat adat. Aku perlu menyebutkan hal ini karena sempat ada pertanyaan, “Bisa gak sih perjuangan keadilan gender tidak dimulai dari kemarahan, bukan dari perempuan yang marah-marah (misuh-misuh)?”

Marah itu akibat dari ketidakadilan dan penindasan yang sistematis. Marah itu alami dan hak setiap manusia. Pertanyaan ini berangkat dari stereotipe feminisme sebagai sosok perempuan marah, kecewa, frustasi yang menjadi sosok radikal sehingga kehilangan sisi femininnya. Karena perempuan yang marah dianggap tidak feminin, dia menjadi tidak menarik bagi laki-laki. Kemarahan mendorong revolusi dan cara berpikir kritis. Lebih penting dari marah adalah bertanya dan mempertanyakan, apa yang membuat seseorang atau sekelompok orang dengan lintas identitas menjadi begitu marah? Pesan apa yang ingin mereka sampaikan? Praktik ketidakadilan apa yang memicu frustasi?

Masih banyak hal yang dapat dibahas tentang filsafat feminisme. Aku berhenti di sini dulu karena berbagai hal di atas perlu diendapkan dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.