Pengalaman-Saya

Perempuan yang multitasking

Apakah perempuan dilahirkan dengan bakat multitasking? Atau perempuan dituntut dari kecil untuk menjadi pekerja multitasking? Tunggu! Pekerja? Apa bayaran yang diperoleh dari seorang perempuan yang multitasking? Aku tidak merujuk hanya bayaran berupa uang tapi keuntungan secara tangible dan intangible. Apakah kemampuan multitasking perempuan dihargai oleh masyarakat sehingga perempuan memiliki posisi yang lebih tinggi? Atau kemampuan dianggap terberikan dari Yang Maha Kuasa?

Awalnya aku ingin membahas tentang berita viral minggu lalu yaitu posting seorang istri yang setiap hari membuatkan bekal makan siang ke suaminya. Aku berubah pikiran ketika kemarin sore kembali dari Jakarta dan menemukan pakaian kotor belum dicuci dan dijemur. Aku lemas karena aku sudah menduganya.

Kenapa aku merasa perlu menuliskan pengalaman ini? Karena kejadian itu membuat aku bertanya ke diri sendiri? Apakah sesulit itu mencuci dan menjemur pakaian sambil bekerja di rumah? Selama ini aku selalu bisa melakukannya. Apakah pekerjaanku terlalu receh sehingga bisa aku “sambi” disela mengerjakan hal lainnya?

Sebagai informasi, atas permintaanku, suami membeli mesin cuci otomatis yang mudah dioperasikan dan bisa ditinggal melakukan pekerjaan lain. Sebagian besar mesin cuci yang dijual di pasaran sudah menggunakan teknologi ini. Jadi siapapun, manusia dewasa, anak-anak, atau hewan yang terlatih, dapat mencuci menggunakan mesin dengan memasukkan pakaian kotor dan sabun atau deterjen ke tempat yang disediakan, tekan tombol Mulai atau Start, dan biarkan mesin itu bekerja selama kurang lebih 45 menit sampai selesai. Setelah itu, jemurlah pakaian yang sudah dicuci, dibilas, dan diperas secara otomatis tadi ke tali atau rangka jemuran. Pekerjaan ini akan makan waktu kurang lebih 7 menit. Selesai.

Aku tumbuh dengan mengamati ibuku bekerja di rumah. Ibuku mungkin model yang mewakili banyak ibu pekerja lain. Jadi sebelum dia bekerja di luar rumah, segala macam pekerjaan domestik dia selesaikan; masak makan pagi, makan siang, menyuci piring, menyiapkan seragam bapak dan anak-anaknya, dan menyemir sepatu bapak. Aku hanya membantu menyapu halaman dan mengepel lantai. Bertahun-tahun seperti ini.

Berhubung aku suka dengan berbagai hal berbau otomatisasi, aku tahu bahwa multitasking adalah fitur umum dari sistem operasi komputer. Sistem ini memungkinkan penggunaan perangkat keras komputer secara lebih efisien. Berdasarkan bacaan di Wikipedia, multitasking dalam komputasi berarti eksekusi bersamaan dari banyak tugas atau proses selama periode waktu tertentu. Tugas baru dapat menyela tugas yang sudah dimulai sebelum selesai, daripada menunggu tugas sebelumnya selesai. Bukan berarti seluruh tugas dapat diselesaikan bersamaan, melainkan beberapa tugas atau segmen tugas dieksekusi secara bergantian dengan cepat.

Apakah perempuan bekerja seperti sistem operasi komputer? Atau peran gender yang dituntut dari perempuan hanya dapat diselesaikan jika perempuan bekerja multitasking? Mungkin ada jawaban jauh lebih sederhana dari pertanyaan “kenapa suamiku tidak mencuci pakaian menggunakan mesin cuci otomatis?” yaitu kemalasan. Sudah, itu saja.

Masalahnya, aku juga malas mencuci dan menjemur tapi aku tetap melakukannya. Aku mencuci hari Senin dan Kamis, karena biasanya ada pekerja rumah tangga yang datang di hari Selasa dan Jumat untuk menyetrika pakaian yang sudah kering. Suamiku juga tahu itu, meskipun untuk minggu ini pekerja di rumah belum masuk karena di perumahan ada 2 warga yang positif Covid-19.

Ya, sampai di sini dulu analisisku. Aku mau mengerjakan pekerjaan lain.

Leave a Reply

Your email address will not be published.