Pengalaman-Saya

Makan siang untuk suami

Beberapa minggu lalu sempat viral postingan seorang perempuan yang menunjukkan masakan yang dia buat sebagai bekal makan siang suaminya di Twitter. Beberapa orang ada yang memberi apresiasi, sebagian lagi merasa konten tersebut sebagai bentuk relasi kekuasaan yang tidak setara antara suami-istri. “Keributan” yang dibuat oleh feminis merespon konten ini menurutku sangat perlu untuk membuat semua orang mempertanyakan segala hal yang dianggap remeh, wajar, dan normal.

Pembicaraan tentang bekal makan siang untuk suami sama halnya dengan diskusi seputar karir versus keluarga atau ibu rumah tangga versus pembantu rumah tangga. Masalah yang kompleks karena di dalamnya ada relasi kekuasaan dan upaya menempatkan perempuan dalam dua kubu yang berlawanan.

Aku tidak pernah membuatkan bekal makan siang untuk suami karena aku jarang masak dan tidak tertarik belajar masak. Jangan salah! Biasanya aku yang beli makan di warung. Suamiku jangankan masak sendiri, beli makan di warung Sunda dekat rumah aja malas. Kalau aku juga malas, biasanya akan pesan pakai aplikasi. Selain karena malas, alasan lain aku yang beli atau pesan makan karena aku yang memegang uang rumah tangga. Sesuai kesepakatan di awal perkawinan, setiap bulan kami akan mengumpulkan uang yang digunakan untuk keperluan rumah tangga seperti makan, bayar internet, beli token listrik, PDAM, dll. Biasanya aku yang melakukan itu semua.

Aku belajar bahwa memasak adalah keterampilan yang bisa dipelajari. Biasanya seseorang akan termotivasi untuk belajar jika berada dalam situasi terdesak. Contohnya suamiku yang bisa memasak dalam pendakian ke gunung atau menjelajahi gua. Masakan juga akan terasa enak kalau dimakan ketika kondisi lapar. Masalah bukan ada pada keterampilan memasak tapi nilai yang memaksakan gender tertentu untuk lebih terampil memasak dan menjadikannya sebagai indikator penilaian karakter.

“You can’t even cook and you want to get married? What’s your wife going to eat when she comes home from work?”

Siapa laki-laki yang pernah mendengar kalimat ini dalam hidupnya? Aku dan teman-teman perempuanku sejak kecil sudah mendengar kalimat itu. Mau tidak mau kami jadi paham bahwa itulah salah satu harapan terbesar masyarakat terhadap perempuan yang menjadi istri.

Sebelum mengenal istilah feminis, aku sudah menjadi seorang feminis. Kok bisa? Karena aku mempertanyakan nilai gender yang diterima sebagai kebenaran, aku menulis kemarahan terhadap ketidakadilan, dan aku berusaha memulihkan diri akibat pelecehan seksual.

Apakah seorang istri yang membuat bekal makan siang untuk suami perlu dipertanyakan? Iya perlu karena pekerjaan tersebut seringkali tidak dihargai secara layak, bahkan tidak dianggap sebagai pekerjaan tetapi semata kewajiban seorang istri. Dalam perkawinan yang tidak memiliki perjanjian perkawinan terkait pemisahan harta, harta yang diperoleh suami istri dalam perkawinan menjadi harta gono-gini atau harta bersama. Namun, jika terjadi perceraian, seringkali istri tidak mendapatkan separuh dari harta bersama itu dengan berbagai alasan. Salah satu alasan karena suami dianggap sebagai pencari nafkah utama alias pihak yang bekerja mendapatkan harta. Pekerjaan domestik istri mengurus keperluan rumah tangga dan keluarga yang memungkinkan suami untuk fokus bekerja di luar rumah tidak diperhitungkan. Perempuan sebagai istri sering memahami hal yang sama sehingga merendahkan kerja domestik yang dilakukan.

Makan siang untuk suami bukan pekerjaan yang remeh. Sebagai sebagai sebuah institusi, ada relasi kekuasaan dalam perkawinan. Makan siang untuk suami hanya salah satu bagian dari institusi tersebut.

Bogor, 18 Juli 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.