Perjalanan-Saya

Anak Kucing

Tulisan ini diambil dari blog lama di forevernikn.wordpress.com. Aku merasa perlu memuatnya di website baruku karena beberapa tahun sebelumnya tidak pernah terpikir aku akan senang dengan kucing. Aku sempat tidak habis pikir jika melihat kedua temanku, Joyo dan Maria, yang sangat suka dengan kucing. Things happen along the way.

Tidak pernah aku bayangkan akan memelihara apalagi mengadopsi kucing kecil. Beberapa bulan sebelumnya memang aku senang memberi makan kucing dewasa perempuan yang sedang bunting di dekat rumah. Aku selalu menjaga jarak supaya tidak timbul ikatan emosi antara kami berdua. Kadang aku membolehkannya untuk masuk ke rumah, sebentar saja.

Pada hari Senin, aku ke kampus untuk menghadiri ujian terbuka doktor seorang teman. Selesai makan siang, aku berniat ke mesjid bersama dua orang teman. Dua temanku memilih jalan melewati Bank Mandiri, entah kenapa aku memilih jalan yang dekat dengan kantin pascasarjana. Pada saat itulah, aku melihat seekor 4 orang anak kucing tergeletak di atas kertas koran. Hampir semuanya mengalami masalah mata yang membusuk. Aku bingung. Ada begitu banyak hal yang berkecamuk di batin.

Apakah aku satu-satunya orang yang baru melihat mereka? Apa yang harus aku lakukan? Apakah mereka masih dapat diselamatkan? Dimana orang tuanya, terutama ibunya yang mungkin masih menyusui? Apakah ada yang dapat menolong mereka? Maksudnya selain aku.

Selesai sholat, aku buru-buru ke samping tempat anak kucing tadi. Aku hanya ingin menyelamatkan penglihatan mereka. Supaya mereka bisa melihat kembali. Tentu saja. Di IPB ada rumah sakit hewan, aku coba cari di internet. Aku tidak tahu lokasinya. Masih belum ketemu, tapi sudahlah, aku bawa saja ke motor dulu. Aku cari-cari kotak bekas yang dapat aku pakai untuk membawa empat kucing kecil ini. Sampai di depan perpustakaan, aku melihat ada tukang ojek. Memang di situ salah satu tempat mangkal ojek, entah kenapa aku terkejut. Aku langsung dapat ide.

Aku bertanya ke tukang ojek jika mereka tahu poliklinik hewan di kampus. Mereka tentu saja tahu. Aku naik dan diantar ke Rumah Sakit Pendidikan Hewan (RSPH) IPB. Aku mendaftar dan menunggu sampai dokter beroperasi kembali. Ketika giliranku tiba, keempat kucing itu dikerubuti oleh lima mahasiswa kedokteran hewan. Mereka menimbang, mengukur denyut jantung, dan melihat berbagai hal lain dari setiap kucing. Setelah semua dicatat, maka masuk ke ruang periksa. Kemudian dokter dipanggil.

Semua kucingku diperiksa. Dokter mengatakan bahwa seluruh kucing terkena chlamydia dan berakibat radang mata. Karena digaruk-garuk maka semakin memburuk. Alhasil satu kucing retinanya sudah membengkak dan tidak bisa diperbaiki. Dia buta total. Tiga kucing lainnya masih ada kemungkinan untuk melihat jika dirawat dengan baik. Kemudian tim mahasiswa membuat topi leher mini dari bekas rontgen untuk dipasangkan ke tiap kucing agar mereka tidak garuk-garuk luka di mata. Selain itu, mereka diberikan obat anti cacing dan luka di mata dibersihkan. Dari hasil pemeriksaan, dua kucing jantan dan dua kucing betina. Dokter mengatakan bahwa usia mereka 2 bulan.

Dokter bertanya apakah aku akan merawat mereka. Aku mengatakan, iya. “Gila! Aku akan adopsi 4 hewan kecil ini? Why? What for? Can I?”

Pada satu sisi aku merasa heroik. Pada sisi lain, aku merasa ada kebebasan yang aku korbankan. Help! Aku teringat pada Maria Mustika. Apakah salah satu kucing tadi adalah reinkarnasi Maria. Dia sering merawat kucing yang berkebutuhan khusus.

Biaya untuk pemeriksaan dan obat empat kucing sekitar 300 ribu. Lumayan mahal ya. Makanya aku belum beli kandang besi dengan harga 200-250 ribu, cukup dari kardus. Lagipula di rumah, aku bebaskan mereka di ruang tengah. Kalau di dalam kardus, mereka akan ramai mengeong. Belum lagi tas kucing seharga 200 ribu, bekasnya pun masih mahal. Nantilah. Pantes aja orang yang punya anak keteteran dengan biaya hidup.

Aku kabari suami untuk memberitahu keputusan mengadopsi empat anak kucing. Aku sibuk mencari informasi kandang, makanan, dan keperluan pemeliharaan kucing lainnya. Aku juga harus menebus obat yang diresepkan. Tiba-tiba aku jadi super sibuk dan mengatur jadwal dengan lebih ketat. Aku juga mencari di internet tentang makanan kucing. Akhirnya aku dapat yang disukai keempatnya yaitu campuran tempe dan ikan (tongkol atau pindang).

Selain menyiapkan dan menyuapi makan untuk satu kucing paling kecil, kegiatan lainnya adalah mencuci kain tempat mereka buang air kecil, membersihkan pup, mengepel lantai tiap hari, membersihkan mata mereka dua kali sehari dengan NaCl, memberi salep ke mata, menyuapi susu, menjemur tiap pagi, mencuci perlengkapan makan yang mereka pakai, ya sepertinya itu saja. Saat ini tiga kucing masih buta, satu kucing memiliki separuh penglihatan.

Aku baru menjalani peran ini selama 6 hari. Well done! I don’t know how good or how long I can be a mother of 4 kitten. Just pray!

Bogor, 31 Maret 2018

Leave a Reply

Your email address will not be published.