Uncategorized

Aku di tengah pandemi Covid-19

Aku belum pernah menulis tentang dampak pandemi Covid-19. Dampaknya terasa sejak Maret 2020 ketika tempat kerjaku harus membatalkan lokalatih yang persiapannya sudah 95 persen. Perasaanku campur aduk. Beberapa bulan berlalu dengan cepat dan penyebaran Covid-19 masih tinggi.

Sejak pembatalan lokalatih Maret lalu, semangatku menurun. Secara penuh bekerja dari rumah tidak menyenangkan. Aku merasa tetap perlu ada interaksi langsung dengan teman-teman. Aku juga menyukai perjalanan yang aku lakukan dari Bogor ke Jakarta menggunakan kereta listrik. Aku suka menggunakan kendaraan umum: bus, mobil, atau kereta listrik. Apalagi kalau ditemani dengan musik dari ponsel. Pikiranku kemana-mana selama perjalanan.

Perjalanan dengan kendaraan umum di jam-jam sibuk yang tidak nyaman menjadi semakin tidak nyaman sejak Covid-19 dan diberlakukan protokol kesehatan. Aku tidak bisa menikmati perjalanan selama 2 jam. Biasanya dari rumah aku akan naik motor yang dititipkan di sekitar stasiun, naik kereta listrik lalu menyambung dengan ojek motor. Selain itu, ada kenaikan biaya satu kali perjalanan pulang pergi. Sebelum pandemi biasanya sekitar 42 ribu, sekarang menjadi 60 ribu.

Powerless. Tidak berdaya. Itu perasaanku selama pandemi. Grateful. Aku masih bersyukur karena masih punya pekerjaan dengan gaji bulanan dan tunjangan. Suami juga masih bekerja dengan lancar. Kami berdua tidak mengalami pemotongan gaji dan tunjangan. Aku bersyukur sekali.

Kami berdua bekerja dari rumah. Jadi kami harus berbagi ruang kerja dan itu bukan perkara mudah buatku. Biasanya aku yang sering kerja di rumah dan suami ke kantor. Jadi ruang kerjaku lebih luas. Sekarang aku bekerja dari kamar yang diubah sementara menjadi ruang kerja. Meja putih Krisbow yang sebelumnya di ruang tamu, dipindahkan ke kamar kerja. Lalu aku membeli kursi lipat karena kursi kerja sebelumnya rusak.

Meskipun aku tidak atau belum kena PHK, di sekelilingku banyak pekerja yang di-PHK. Ketika orang-orang di sekelilingku stres, aku ikut stres juga. Aku juga semakin jarang berkunjung ke mal atau tempat belanja. Padahal hobiku adalah windows shopping atau berjalan mengelilingi mal meskipun tidak beli apa-apa. Aku dalam kondisi craving to walk around shopping mall.

Satu lagi yang bikin powerless dan kecewa ketika Idul Adha kemarin aku dan suami terpaksa membatalkan tiket keberangkatan ke Malang. Kami pikir kondisi sudah lebih aman, kami juga sudah melakukan rapid test dan hasilnya non-reaktif. Biaya rapid test saja 300 ribu berdua. Satu hari sebelum berangkat suami mengabari bahwa ada 3 teman kerjanya yang suspect Covid-19 dan kantornya yang tadinya sudah memberlakukan 3 hari kerja di kantor menjadi WFH (Work From Home).

Aku gagal bertemu kangen dengan orang tua, mertua dan teman-teman di Malang. Sedih, kecewa, kesal. Salah satu tantangan selama pandemi adalah mengelola emosi, menata hati, dan berpikir positif. Wow!

Leave a Reply

Your email address will not be published.