Pengalaman-Saya

Teman imajinasi dan inner child

Kalau aku mengingatnya dengan benar, aku mulai menciptakan teman imajinasi pada usia 6 tahun. Saat itu aku baru sembuh dari sakit panas dan bapakku membelikan boneka berpakaian pink yang aku beri nama Lara.

Teman imajinasiku tidak satu tapi ada tiga. Dalam satu waktu bisa ada dua, ada dua perempuan yaitu Lara dan Isabella, satu laki-laki aku lupa namanya. Teman imajinasiku terus bersamaku sampai usia sekitar 21 tahun, setelah selesai kuliah.

Baru-baru ini aku mendengar istilah inner child. Kalau menurut berbagai artikel di internet, inner child ini merujuk pada inti kepribadian yang dibentuk selama masa pengasuhan oleh orang tua. Banyak orang terus bertumbuh tanpa menyadari ada luka batin yang dirasakan oleh “anak kecil” (inner child) dalam diri mereka. Akibatnya tidak semua orang tahu dan sadar bahwa “anak kecil” dalam diri mereka sedang terluka. Karena tidak sadar terluka, maka tidak ada penyembuhan atau pemulihan.

Awalnya aku berpikir bahwa teman imajinasiku adalah inner child. Setelah membaca konsepnya, aku kok merasa bahwa akulah inner child itu dan teman imajinasiku yang “merawat” dan “menyelamatkan” aku dari berbagai pikiran dan pilihan hidup negatif. Seperti orang lain, aku mengalami luka batin dan aku menyadarinya sejak SD kelas 6 karena secara batin selalu ada gemuruh petir berupa kemarahan, frustasi, kebingungan, dan keresahan di dalam diri. Hidup menjadi rutinitas bernapas untuk makan, sekolah, dan tidur. Aku tidak tahu cara mengekspresikan kemarahan selain dengan menulis puisi.

Menulis puisi membantu tapi bukan solusi karena aku tidak bisa memaknai berbagai gemuruh emosi dengan baik. Aku berusaha mengurainya tapi tidak bisa menganalisis dan memaknainya. Aku gemas, kesal, dan frustasi karena tidak tahu siapa diriku, kenapa aku merasa berbagai gemuruh batin tadi, dan lain sebagainya. Gemuruh batin tadi sangat mengganggu karena kekuatannya seperti hot spring atau air mancur panas. Bayangkan, selain airnya panas, muncrat ke atas dengan kekuatan tinggi. Sangat tidak sehat.

Ketika aku masih kecil, aku sering bicara sendiri. Apalagi ketika aku main “orang-orangan”. Aku memerankan banyak tokoh. Aku rasa tidak ada orang yang benar-benar berhenti bicara sendiri dengan batin mereka tapi dalam cara dan intensitas yang berbeda. Aku masih terus berbicara dengan batinku secara intens layaknya “dia” orang yang berbeda sampai aku berusia 26 tahun. Ketika aku dapat memulihkan diriku secara perlahan, aku sudah jarang menghubungi dan berbicara dengan batinku.  

Pernah aku merasa tidak normal karena ketika kita sudah dewasa dan masih suka bicara sendiri maka akan dianggap orang gila. Jadi aku merasa minder. Lalu aku belajar membatin supaya tetap bicara dengan diri sendiri.

Pembicaraanku dengan teman imajinasi bervariasi, kadang seperti dua orang teman yang berdiskusi, kadang seperti pasien yang berkonsultasi ke psikolog. Kadang temanya tentang sastra, jatuh cinta, pertemanan, perkuliahan, frustasi, dan berbagai perasaan lain.

Percakapan batin dengan diri sendiri cukup menenangkan. Aku berhenti berbicara dengan teman imajinasi pada usia 21 tahun tapi aku tetap melakukan percakapan batin, entah dengan inner child, inner self, inner spirit. It’s no longer to survive, but also to keep me sane, to be in the moment, and to have a reality check.

Ketika aku sudah mampu menganalisis, memaknai, dan memulihkan diri dari luka batin, sumpah rasanya badan jasmani dan rohani ini terasa enteng dan lega. Enteng bukan karena kosong (empty) tapi merasa ringan untuk melangkah, merasa, jatuh cinta, membuat keputusan, berpikir, membuat kesalahan, jungkir balik. Aku tidak lagi menyalahkan diri sendiri, tidak membenci tubuh biologisku, menerima seksualitasku, terbuka dengan seksualitas dan cara pandang berbeda, tidak kejam dan menuntut pada diri sendiri, lebih santai dalam menyikapi dunia meskipun kadang jatuh juga. Tidak sepenuhnya baik dan mulus, tapi aku merasa jauh lebih baik dibanding ketika aku berusia 9 tahun atau 13 tahun. Aku menghabiskan masa muda dengan gemuruh pertarungan batin yang melelahkan.

Aku tidak tahu cara mengakhiri tulisan ini. Dulu aku juga tidak tahu bagaimana mengatasi masalahku. Aku melakukan apa yang bisa aku lakukan dengan sumber daya yang ada.

Leave a Reply

Your email address will not be published.