Perjalanan-Saya

SIMAK UI

Hari ini SIMAK UI menjadi trending di Twitter, bertepatan dengan pengumuman penerimaan mahasiswa baru melalui website. Ada yang diterima, ada yang gagal. Aku tidak punya pengalaman buruk tentang ujian penerimaan mahasiswa. Aku tidak pernah mengulang ujian SBMPTN atau dulu disebut UMPTN.

Pada tahun 1997 aku lulus masuk UI pada percobaan pertama. Pilihan pertamaku adalah Jurusan Ilmu Perpustakaan. Pada waktu itu dianggap remeh dan tidak punya prestige seperti ilmu ekonomi, kedokteran, dan teknik. Aku menilai keberhasilan utamaku bukan lulus SBMPTN di UI tetapi karena aku berhasil bernegoisasi dengan orang tua memilih jurusan yang aku sukai. Aku ingin menjadi pustakawan dan aku ingin belajar ilmu perpustakaan. Sederhana saja. Aku tidak berpikir berapa sainganku dan passing grade. Aku tahu yang aku mau.

Aku ikut les di Nurul Fikri. Temanku pernah menyindir, “Ken, kalau kamu milih masuk jurusan ilmu perpustakaan di UI, gak perlu ikut bimbel juga pasti masuk.” Pada waktu itu, JIP bukan jurusan yang populer sehingga tidak banyak peminat dan saingan. Aku sempat bingung dengan sindiran temanku. Tujuanku ikut bimbel tidak hanya supaya bisa lulus SBMPTN tapi karena aku tidak punya kegiatan lain setelah pulang sekolah.

Sekolahku selesai jam 1 siang. Kebanyakan siswa ikut bimbel untuk menyiapkan ujian. Jadi aku ikut bimbel antara ikut-ikutan dan mengisi waktu. Aku tipe orang yang sulit konsentrasi dalam waktu lama, misalnya lebih dari 2 jam. Selama aku mengikuti bimbel, aku belajar berkonsentrasi menyelesaikan soal dalam waktu yang lebih panjang dari 2 jam. Aku suka melamun. Latihan di bimbel sangat membantu.

Aku sangat paham dengan keterbatasan ini jadi ketika mengerjakan suatu ujian, aku akan menetapkan target bahwa aku harus menyelesaikan ujian ini selama 2 jam. Setelah 2 jam, konsentrasiku akan menurun. Setelah 3 jam, selamat tinggal. Ketika aku mampu mengerjakan ujian selama 3 jam atau lebih, itu merupakan pencapaian. Tidak peduli hasilnya bagus atau tidak.

Pada saat ujian masuk pascasarjana UI, aku juga lulus pada percobaan pertama. Kali itu, aku tidak ikut bimbel atau mencoba psikotes. Aku ikut ujian dengan tekad memulihkan diri. Pilihanku adalah Kajian Gender (pada waktu itu bernama Kajian Wanita). Aku baru mengetahui sulitnya masuk UI ketika staf administrasi mengeluh jumlah mahasiwa pascasarjana yang lulus ujian masuk sedikit dan UI tidak memberi alternatif. Di kampus lain, mahasiswa yang tidak lulus ujian Bahasa Inggris diberi waktu 1 tahun untuk memperbaiki skor. Di UI pada tahun 2004, calon mahasiswa harus lulus dengan skor minimum. Bagi calon mahasiswa dari luar Jawa, skor psikotes dan Bahasa Inggris termasuk bagian yang sulit ditembus.

Aku tidak pernah memandang diriku siswa yang cerdas. Aku selalu berpikir adikku jauh lebih cerdas, terutama untuk matematika dan sains. Aku suka menulis, melamun, dan berimajinasi. Aku sulit berkonsentrasi lebih dari 2 jam tetapi aku orang yang tekun. Aku tahu aku lambat paham untuk beberapa mata pelajaran, jadi aku mencoba belajar sendiri atau paling tidak jadi siswa yang baik-baik saja. Ada banyak keuntungan menjadi siswa dengan kualitas menengah. Salah satunya, tidak perlu terlalu bekerja keras untuk menang penghargaan ini dan itu sehingga masih bisa punya waktu membaca dan mengoleksi novel Agatha Christie.

Begitu juga ketika ujian masuk studi doktor di IPB. Aku lulus pada percobaan pertama. Untuk ujian pasca S2 dan S3, aku tidak belajar sampai tengah malam atau mengurangi jam tidur seperti ketika ujian masuk S1. Jauh lebih santai. Mungkin karena aku sudah paham kemampuanku dan kekuranganku. Aku bisa mengolah ekspetasi, mengelola emosi, dan memvisualisasikan tujuan yang ingin aku capai.

Dalam hal akademik, aku siswa yang normal. TK 1 tahun, SD 6 tahun, SMP 3 tahun, SMA 3 tahun, S1 4 tahun, S2 2 tahun, dan S3 3 tahun. Tidak lebih lambat, tidak lebih cepat; sesuai standar nasional.

Perjalanan akademikku juga berwarna karena di tahap S1, biaya pendidikan dan hidupku ditanggung oleh orang tua. Sempat mendapat keringanan biaya selama 2 semester dari rektorat UI. Kemudian di tahap S2, aku membayar sendiri seluruh biaya SPP dan sudah bekerja pada semester keempat. Pada tahap S3, aku mendapat beasiswa yang menanggung biaya pendidikan dan biaya hidup.

Lulus SIMAK UI bukan segalanya. Adikku sendiri tidak lulus SBMPTN ke ITB. Dia lulus di STAN dan menjadi pegawai negeri. Suamiku waktu SMA pernah tidak naik kelas dan hanya aktif kuliah selama 1 tahun pertama di Universitas Brawijaya. Setelah DO dari Brawijaya, dia pernah melanjutkan kuliah di 2 kampus berbeda di Malang dan tetap tidak diteruskan. Dia cerdas dan kemampuan komunikasinya lebih bagus dari aku, tapi karakternya tidak cocok dengan karakter akademik. Setiap orang memiliki jalan yang berbeda. Respect your process, understand your limit, push your boundary, enjoy the learning.

Bogor, 18 Agustus 2020

One Comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.