Pengetahuan-Saya

Menikah itu strategi

Menikah akan menjadi indah jika dilakukan secara sadar tentang keuntungan dan risikonya. Menikah bagiku tindakan praktis dan rasional, artinya perlu dilakukan dengan penuh perhitungan. Modal menikah tidak sebatas cinta.

Menikah menjadi strategi buatku untuk bisa keluar dari rumah orang tua dan lebih mandiri. Aku pernah tinggal sendiri karena tinggal di luar daerah. Ketika aku menikah, meskipun tinggal berdekatan, aku punya ruang sendiri dan terpisah dari orang tua. Ruang itu (sendiri dan terpisah) penting untuk pemulihan batinku.

Ketika akan menikah, aku menyampaikan ke pasangan bahwa kalau nantinya setelah menikah kami merasa tidak cocok lagi atau merasa ada yang kurang, berpisah menjadi pilihan. Artinya, jangan dipaksakan menikah untuk selamanya atau sekali untuk seumur hidup.

Bagi heteroseksual seperti aku, agak sulit hidup bersama dengan laki-laki di satu rumah tanpa menimbulkan kontroversi atau jadi perbicangan tetangga. Aku ingat pernah tinggal di desa di luar kota Yogyakarta. Tetanggaku adalah dua seniman yang tinggal bersama tanpa menikah. Tetangga lain, laki-laki dan perempuan, sering merecoki dengan bergosip atau cara implisit yang membuat tidak nyaman.

Menikah bisa menjadi strategi kalau seseorang sudah memiliki pasangan tetap. Menikah merupakan kontrak sosial antara dua individu yang salah satu tujuannya untuk mendapatkan pengakuan dari komunitas. Biasanya kalau seseorang mendapat pengakuan dari komunitas, dia akan menjadi lebih “aman” secara sosial. Tidak direcokin seperti pengalaman tetanggaku. Sudah menikah pun banyak yang merecoki. Bisa tetangga dan keluarga sendiri. Misalnya aku dan suami yang sudah menikah lebih dari 10 tahun dan belum ada anak. Suamiku tidak ada masalah, tapi keluargaku yang kadang bertanya ini dan itu.

Dari pengalamanku, menikah bisa menjadi jalan yang menyesatkan atau yang menguatkan. Menikahlah ketika kamu sudah punya konsep diri yang kuat, tahu benar apa yang kamu inginkan dari sebuah pernikahan, dan mampu menegoisasikan syarat dan ketentuan pernikahan dengan pasangan. Jangan gegap gempita dulu kalau punya pasangan yang jauh lebih tua, lebih muda, lebih kaya, lebih cakep, dan kelebihan lainnya. Selalu sadar dan peka dengan kekuasaan dan kekuatan yang muncul dari sumber daya yang dimiliki masing-masing.

Menikah juga tidak otomatis seseorang memberikan consent atau persetujuan untuk berbagai hal dalam kehidupan pernikahan. Ada namanya marital rape atau perkosaan dalam pernikahan ketika pasangan melakukan tindakan seksual tanpa persetujuan dan/atau bertentangan dengan keinginan seseorang, dilakukan dengan paksaan, atau ancaman kekerasan, intimidasi, atau ketika seseorang berada dalam kondisi tidak dapat memberikan persetujuan (mabuk, tidak sadar, di bawah umur, dan keterbelakangan mental).

Bagaimana dengan pacaran sebelum menikah? Aku bukan orang yang pro pacaran karena lebih sering digunakan untuk romansa saja. Aku sendiri terpaksa pacaran dengan pasangan karena pada waktu itu pasangan dalam pengobatan TBC dan dia belum punya tabungan. Aku punya prinsip untuk menabung sejak kecil dan aku menilai seseorang dari kemampuan menabungnya karena menunjukkan pengendalian diri konsumsi. Meskipun aku juga enggak bagus-bagus banget untuk satu hal ini. Lumayanlah.

Menikahlah kalau memang itu keputusan yang strategis…dan sudah ada calon…hehehe.

Leave a Reply

Your email address will not be published.