Lirik-Puisi

A song from the past – Days are Numbers

Jadi seri judul ini aku persembahkan ke beberapa lagu yang pada suatu waktu sering aku dengarkan. Lagu pertama pada seri ini adalah “Days are Numbers” dari The Alan Parsons Project. Aku kurang ingat bagaimana aku menemukan lagu ini.

Lagu ini sangat enak didengarkan pada masa aku naik bus atau angkutan kecil, pulang pergi ke kampus di Salemba. Rumahku masih di Jalan Damai, Kalisari, Jakarta Timur. Aku simpan lagu ini di MP3 player warna pink seharga sekitar 30 ribuan dengan klip di bagian belakang. Kalau tidak salah, aku beli di Depok.

Lirik lagunya begini.

The traveler is always leaving town
He never has the time to turn around
And if the road he’s taken isn’t leading anywhere
He seems to be completely unaware

The traveler is always leaving home
The only kind of life he’s ever known
When every moment seems to be
A race against the time
There’s always one more mountain left to climb

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

The traveler awaits the morning tide
He doesn’t know what’s on the other side
But something deep inside of him
Keeps telling him to go
He hasn’t found a reason to say no
The traveler is only passing through
He cannot understand your point of view
Abandoning reality, unsure of what he’ll find
The traveler in me is close behind

Days are numbers
Watch the stars
We can only see so far
Someday, you’ll know where you are
Remember
Days are numbers
Count the stars
We can only go so far
One day, you’ll know where you are

Liriknya bagus ‘kan? Cocok untuk jiwa muda yang sedang galau. Kalau tidak salah aku mendengarkannya tahun 2005-2006. Aku masih kuliah tahun terakhir. Aku senang sekali melamun di atas bus sambil mendengarkan lagu. Perfect time to get lost in your mind. Apalagi kalau jalanan macet dan aku berdiri selama 1 jam.

Aku merasa seperti traveler karena aku memang dalam perjalanan; menuju pemulihan diri. Aku tidak perlu merasa bahagia. Aku hanya ingin menjalani hidup dengan tenang, tanpa harus bertarung dengan tubuhku, kecewa dengan seksualitasku, dan menyekap marah yang melemahkan semangatku untuk hidup. I did it.

Leave a Reply

Your email address will not be published.