Pengalaman-Saya

Menjadi Mindful

Menulis catatan harian atau jurnal setiap hari untuk mempraktikkan mindfulness bukan hal yang mudah. Menulis sendiri proses refleksi yang menuntut mengingat kembali dan mensistesis pengalaman. Termasuk pengalaman buruk dan traumatis yang biasanya ingin dilupakan secara cepat. Ucapan klise bahwa ada makna di balik semua pengalaman hidup kadang omong kosong. Pengalaman traumatis kadang seperti itu adanya dan mengingat kembali berarti merasakan kembali trauma yang sama.

Menjadi mindful begitu juga. Untuk bisa merasakan setiap momen dan setiap tarikan napas tidak mudah ketika semua langkah dilakukan secara cepat dan terprogram. Untuk berada di dalam momen, aku harus sering menekan tombol pause internal tubuh dan pikiran. Kadang seperti orang bingung, “aku lagi ngapain, di mana, mau ke mana?” Belum termasuk pertanyaan tentang perasaan. Aku kadang sulit menggambarkan apa yang aku rasakan dan sudah menjawab dengan kata pertama yang ada dalam pikiran meskipun itu bukan kata sifat tapi kata kerja.

Apa yang kamu rasakan sekarang? Berjalan dengan kaki, menunggu kereta datang, melihat orang berbaris, dan lain-lain. Tapi itu bukan perasaan. Ya sudahlah. Aku tidak bisa menangkap dan mengekspresikan perasaanku dengan satu kata. It’s too much to ask. Lalu aku baca ada praktik yang namanya feel your feelings dan langkah pertama adalah say hello to your feeling. Wow!

Mindful dan berefleksi bukan perkara nyaman. Makanya aku kadang tidak tertarik melakukannya. Bukan ingin lari dari pengalaman buruk tapi sekadar merasa nyaman untuk beberapa jam agar bisa berfungsi di hidup sehari-hari. Pasti bukan cuma aku yang bingung mau menulis apa setiap hari?

Leave a Reply

Your email address will not be published.