Pengalaman-Saya

Tempat Aman

Minggu, 25 Oktober lalu aku mudik ke Malang. Akhirnya. Sejak Lebaran tahun lalu, baru kali ini aku kembali ke Malang. Bulan Juli lalu aku dan pasangan sudah punya tiket dan hasil rapid test tetapi gagal pulang karena beberapa teman kantornya suspect COVID-19. Tiket pun dibatalkan.

Pasanganku berangkat duluan dengan mobil bersama beberapa teman kantor. Aku mendapat tiket Citilink murah hari Minggu. Harganya tidak sampai 400 ribu sekali jalan dengan rute Bandara Halim ke Bandara Abd. Saleh Malang. Jam 4.30 aku sudah siap berangkat dan memesan ojek motor. Tarif dari rumah ke pool damri lebih murah pakai Grab yaitu 24 ribu tapi supir terdekat tidak mau mengantarku dengan alasan jauh dari lokasi. Akhirnya aku pilih Gojek dengan tarif sedikit lebih mahal.

Sampai di pool damri jam 5 lewat sedikit dan tidak ada armada yang berangkat karena tidak ada penumpang. Aku harus menunggu 1 jam karena damri ke Bandara Halim selanjutnya berangkat jam 6 pagi. Namun aku merasa tenang karena petugas mengatakan waktu yang tersedia cukup. Setiap penumpang akan ditanya waktu berangkat dan bandara yang dituju. Jika dirasa tidak akan sampai sesuai jadwal maka petugas akan menyarankan untuk naik taksi.

Terakhir aku naik damri bulan Januari 2020. Waktu itu tarif damri ke Bandara Soetta 55 ribu dan 40 ribu ke Bandara Halim. Kemarin aku baru tahu kenaikan tarif bus damri ke Bandara Soetta 120 ribu dan ke Bandara Halim 85 ribu. Jumlah penumpang memang dikurangi dan jumlah penumpang sangat jauh menurun sehingga kenaikan ini dapat dimaklumi meskipun tetap memberatkan. Entah kalau kondisinya kembali ke old normal, tarifnya mungkin berubah. Semoga ya.

Sampai di Bandara Halim sekitar jam 6.30. Oleh petugas, aku diminta ke loket untuk meminta stempel di hasil rapid test. Setelah itu check-in di counter. Sehari sebelumnya aku sudah check-in jadi aku cuma menunjukkan bukti check-in dan KTP lalu masuk ke ruang tunggu. Pesawat bergerak jam 7.30 dan tiba jam 9 di Malang, telat 5 menit. Not bad.

Sama seperti naik bus, aku juga suka naik pesawat dan dibuat takjub dengan pemandangan dari atas. Cuaca kemarin sangat cerah, aku bisa melihat pemukiman yang perlahan menjauh dan mengecil dari pandangan. Merasakan kembali sensasi melayang di antara awan putih. Sampai sekarang aku masih senang sambil terheran melihat awan yang melayang di udara. Sepanjang perjalanan, aku melewati beberapa gunung. Wah, bahagia banget! I miss this view and this feeling.  

Pesawat mendarat mulus. Tadinya aku mau langsung ke Terminal Arjosari lalu ke Pandaan. Berhubung aku kebelet pipis dan BAB, akhirnya aku ke rumah mertua. Tarif taksi Bandara Abd. Saleh 75 ribu, kalau ke Terminal Arjosari 65 ribu. Aku dapat informasi dari supir bahwa mereka mendapat 15% dari tarif yang ditentukan pihak bandara. Sampai di rumah mertua, aku makan, mandi, dan tidur. Sekitar jam 3 aku berangkat ke Pandaan. Aku kangen bertemu orang tua.

Ketika berjauhan, aku kangen. Ketika sudah dekat, aku merasa, “Oke cukup 3 malam di sini.” Baru beberapa menit sampai di rumah, ibu sudah mengomentari pakaianku yang dianggap ketat di badanku yang besar. Kemudian bapak sedikit merajuk ingin ke Banyuwangi lalu tidak lama dia minta aku pakai jilbab kalau ke luar karena warga di sini sudah tahu kalau ibuku sudah naik haji. Ketika aku keluar rumah, ibu bertanya, “Masak pakai celana pendek?”

Ya, tiga malam cukup. Aku harus kembali ke tempat yang nyaman dan aman untuk menjadi diri sendiri. Kembali ke rumah, kadang bukan pilihan yang nyaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published.