Uncategorized

Tiga anak si Belang

Tiga. Beberapa bulan lalu Belang melahirkan tiga anaknya. Ini kehamilan Belang yang kedua yang aku ketahui. Aku dan suami tiba-tiba heran melihat perut Belang mengempis. Di mana dia melahirkan? Di mana bayinya? Tidak ada jejak. Kami hanya yakin dia sudah melahirkan. Sepertinya dia menyembunyikan bayi-bayinya. Tetapi aku juga melihat dia banyak menghabiskan waktu di dalam rumahku. Kenapa dia tidak menyusui atau mengasuh bayinya? Banyak pertanyaan yang tidak terjawab.

Sekitar tiga minggu yang lalu, aku mendengar suara anak kucing di teras rumah. Aku heran. Ketika aku membuka pintu, ada dua anak kucing di luar berusia sekitar 3 bulan. Aku mendengar suara Belang dari kanopi yang melindungi jendela di ruang tamu. Tidak berapa lama, pluk! Ada satu anak kucing jatuh dari atas. Aku kaget! Rupanya Belang merasa sudah saatnya mengenalkan anak-anaknya ke aku. Ada tiga bayi dengan warna beragama: satu bayi memiliki tiga warna, satu bayi dengan dua warna, dan satu bayi hitam. Masalahnya, bayi-bayi ini mengalami klamidia dengan kotoran mata yang banyak sehingga bayi-bayi ini tidak bisa melihat.

Aku pun mengambil kapas dan membersihkan mata bayi-bayi Belang. Ini menjadi pekerjaan rutinku sampai sekarang. Aku berpikir, “Wah, Belang tidak mengurus bayi-bayinya dengan baik seperti kelahiran pertama.” Tapi setelah aku lihat kembali, dia sangat melindungi anak-anaknya dan mengurus mereka dengan baik. Mungkin kondisi di atas kanopi memang tidak baik dan dia sering menghabiskan waktu sendiri di dalam rumahku. Makanya dia menurunkan anak-anaknya ke bawah.

Ketika aku merawat anak-anaknya, Belang juga masih protektif. Ada satu anak yang pasti rewel kalau dibersihkan yaitu bayi dengan tiga warna. Kalau bayi satu itu meronta dan merengek, Belang akan mendatangiku. Mungkin untuk mengingatkan supaya jangan terlalu kencang atau menyakitinya. Padahal dua bayi yang lain tidak seperti itu. Satu anak ini memang dramatis.

Dari ketiga anaknya, bayi berwarna hitam yang sudah berani mencoba dry food dan dia akan mencoba makan ikan yang dimakan Belang. Dia tidak milih-milih makanan. Aku meletakkan satu kardus di teras sebagai tempat tidur bayi-bayi ini. Setelah dua minggu, aku buatkan yang baru karena yang lama sudah kotor.

Dari tiga anak Belang yang terdahulu, ada satu anak yang bertahan hidup yaitu jantan dengan warna bulu dominan oranye. Satu anak jantan berwarna abu-abu yang cakep tiba-tiba saja aku dengar mati. Padahal dia tidak sakit. Dugaanku dia terlindas kendaraan. Biasanya itu salah satu musuh kucing.

Ada satu insiden yang terjadi dua malam kemarin. Ada perkelahian fisik antara bapaknya bayi-bayi itu dengan jantan lain yang lebih besar di tengah malam. Susah sekali melerai mereka. Bayi oranye ketakutan dan karena dia tidak bisa melihat jelas, induknya pun ditakuti. Aku bisa melerai perkelahian tadi tapi bayi-bayi ketakutan.

Aku ingin melihat perkembangan dari bayi-bayi ini. Aku dengar induk kucing biasa memindahkan anak-anaknya 6-7 kali. Entah ini yang keberapa.

Leave a Reply

Your email address will not be published.