Pengalaman-Saya

Hubungan yang sehat dimulai dari mental yang sehat

“Pacaran yang sehat adalah tidak pacaran.” Aku pernah membaca kalimat itu, entah di artikel atau kiriman di media sosial. Kemungkinan pesan tersebut bagian dari gerakan Indonesia tanpa pacaran. Meskipun aku hanya pernah dengar gerakan Indonesia Tanpa Feminisme.

Pacaran atau tidak, hubungan intim yang sehat sangat penting. Terutama ketika kamu pernah mengalami kekerasan seksual. Hubungan intim yang aku maksud bisa merujuk ke pacaran atau teman tapi mesra atau friends with benefit, dan sejenisnya. Salah langkah bisa fatal. Aku bisa berkata seperti itu karena aku dengan sadar tidak menjalin hubungan intim atau punya kedekatan khusus dengan seseorang sampai aku merasa cukup pulih dari trauma kekerasan seksual.

Waktu itu usiaku 27 tahun. Pada usia itu aku merasa sudah memiliki kesiapan mental untuk menjalin hubungan dengan laki-laki. Aku baru menemukan seksualitasku sebagai perempuan heterokseksual. Pada usia tersebut aku baru selesai mengurai berbagai bentuk kekuasaan di dalam diri dan di sekitarku. Aku baru mengenal tentang seksualitas sedikit lebih baik dan tidak sepenuhnya takut dengan maskulinitas. Aku baru selesai kuliah magister dengan biaya sendiri. Aku juga mendapat pekerjaan di kota lain di luar Jakarta. Aku hidup sendiri dengan penghasilan sendiri. Semua itu mendorong rasa percaya diri dalam proses pemulihan trauma.

Aku tidak secara sadar menjaga atau membatasi diri dari hubungan intim. Aku merasa penuh dengan rasa marah, kecewa, sedih, cemas, dan takut. Aku tahu alasannya yaitu kekerasan seksual yang aku alami tetapi tidak tahu bagaimana cara mengatasinya, melampiaskannya, mengurainya, menerima atau memprosesnya. Ibaratnya aku tidak punya alat analisis dan tidak punya sistem pendukung yang dapat memberi bantuan. Aku tahu aku tidak sendiri tapi aku tidak tahu harus ke mana, ke siapa, dan melakukan apa. Aku juga belum bisa bercerita tentang pengalaman kekerasan yang aku alami ke orang lain. Jangankan orang lain, bercerita ke diriku sendiri saja, ke batinku sendiri, aku sudah ambruk. Aku akan menangis sesenggukan dan berusaha menenangkan diri sendiri.

Aku merasa lemah dan tidak siap menjalin relasi intim. Kalau aku paksakan karena melihat teman-teman sudah punya pacar, kemungkinan aku akan mudah dimanipulasi atau menjadi korban kekerasan seksual lagi. Entah darimana aku punya kesadaran bahwa aku harus punya kekuatan dan kedewasaan mental untuk menjalin relasi intim. Aku harus mampu menjalin relasi intim dengan diriku sendiri tanpa merasa sakit dan cemas. Aku tidak ingin memiliki ketergantungan emosi atau merasa diriku bermakna terhadap atau karena orang lain.

Dalam banyak bacaan tentang hubungan yang sehat, ditulis bahwa hubungan yang sehat ditandai dengan kebebasan pasangan untuk mengungkapkan pendapatnya masing-masing. Tidak semua perempuan diajarkan atau dibentuk untuk percaya pada pendapat dan pengetahuannya. Penting sekali buatku untuk mampu dan berani menyampaikan pendapat ke pasangan. Komunikasi sangat krusial dalam sebuah hubungan, termasuk dalam hubungan seks. Jangan pernah berasumsi pasangan tahu dan paham tentang apa yang kita pikirkan.

Hubungan yang sehat menghargai privasi dan saling percaya. Aku pernah melihat suatu hubungan tanpa rasa saling percaya. Keduanya selingkuh tapi saling menuduh satu sama lain. Sampai pasangan temanku itu mengkloning WA pacarnya untuk memata-matai percakapan. Wah, aku tidak bisa berada dalam hubungan seperti itu. Aku dan pasangan punya minat dan bidang pekerjaan yang berbeda. Aku memberi dia ruang untuk mengembangkan dirinya sendiri dan privasi untuk bersama teman-temannya. Dia juga melakukan hal yang sama untukku.

Aku bisa melakukannya karena aku merasa nyaman dan aman dengan diriku sendiri. Aku tidak merasa terancam dengan dunianya atau teman-temannya. Kalau aku merasa terancam, aku akan menyampaikannya. Love and respect are mutual.

Bogor, 23 Desember 2020

Leave a Reply

Your email address will not be published.