Perjalanan-Saya

Merenungi 2020

Ada beberapa hal yang aku syukuri selama 2020. Selama pandemi Covid-19, aku justru belajar banyak hal tentang diriku sendiri, orang-orang di sekitarku, dan manusia. Setiap tahun baru biasanya ada target baru atau target lama yang berhubungan dengan keinginan belum tercapai untuk memuaskan kebutuhan rasa aman dan nyaman yang dikonstruksi sedemikian besar. Alhasil lupa atau tidak bisa merekam jejak capaian fisik dan mental yang terasa alami. Tidak ada tuntutan untuk menghargai keistimewaan yang sudah dimiliki.

Sama seperti tahun sebelumnya, aku masih tinggal di sebuah perumahan kecil, semacam cluster di Kota Bogor dengan pengamanan 24 jam dan memiliki drainase yang bagus. Dengan kedua hal itu, aku merasa aman. Rumahku tidak memiliki pagar, kadang kunci motor tertinggal, kadang aku tidak mengunci pintu rumah dan tidak ada kejadian pencurian. Di musim hujan seperti sekarang, perumahanku jarang banjir. Namun, drainase di sekitar perumahan tidak bagus. Artinya perjalanan untuk masuk ke perumahan kadang perlu perjuangan. Di sini aku belajar bahwa kebersihan dan kesehatan tidak bisa dijaga sebatas perumahan. Di perumahanku masih terjadi demam berdarah meskipun kebersihan dijaga karena di sekitar perumahan banyak terjadi genangan air.

Di tengah pemutusan kerja yang terjadi saat pandemi, aku dan pasangan masih bekerja dengan gaji bulanan yang memadai. Aku juga masih ada pemasukan dari deposito, kontrakan rumah, dan usaha yang aku jalani. Aku dan pasangan masih bisa bertahan. Bapakku yang pensiun polisi masih mendapat pensiunan tiap bulan yang cukup dan ibuku masih ada pemasukan sedikit dari investasi di koperasi.

Dengan kondisi seperti di atas, aku bersyukur karena masih bisa memberi bantuan ke orang tua, saudara ibu, dan sepupu. Aku juga masih bisa belanja produk dari teman-teman yang tahun lalu tidak bekerja dan banting setir membuka usaha makanan.

Aku senang karena selama pandemi aku menjadi rajin berolahraga. Yes, that’s one important thing. Aku punya waktu atau merasa punya lebih banyak waktu untuk menjaga kesehatan dengan lebih aktif bergerak. Aku juga berusaha mempraktikkan puasa 12-14 jam, mengatur waktu makan dan walaupun susah tapi berupaya memilah makanan.

Beberapa hal itu saja sudah cukup untuk merasa bahagia. Bahagia memang perlu dicari-cari dan dibuatkan alasannya karena kebahagiaan seseorang tergantung pada pandangan orang-orang di sekelilingnya. Biasanya kalau seseorang bisa memenuhi standar tertentu di suatu masyarakat, dia akan merasa bahagia. Ketika seseorang tidak dinyinyiri atau diomongkan secara jahat, dia bahagia. Itu saja sudah cukup.

Bogor, 3 Januari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.