Pengalaman-Saya,  Pengetahuan-Saya

LGBTIQ anak-anak dan difabel

Bulan Januari 2020, lembagaku mengorganisir lokalatih bagi aktivis perempuan muda di Balikpapan. Peserta berasal dari berbagai provinsi di Pulau Kalimantan. Salah satu yang berkesan dari kegiatan itu adalah ketika aku melakukan wawancara ke beberapa peserta. Salah satunya peserta yang bercerita bahwa, “Saya tau gender itu hanya perbedaan kelamin, ternyata di gender itu ada yang namanya LGBT. Tadinya saya tau LGBT itu hanya orang-orang dewasa ternyata yang remaja juga ada.”

Aku juga punya pengalaman yang sama. Dulu aku berpikir LGBTIQ (Lesbian Gay Biseksual Transgender Interseks Queer) adalah pilihan yang dilakukan seseorang ketika dia beranjak dewasa. Kemudian aku belajar melalui cerita dan testimony dari banyak LGBT. Pada waktu itu sepertinya belum banyak orang yang mengidentifikasi dirinya sebagai Intersex dan Queer. Jadi aku hanya tahu LGBT. Dulu aku masih bertanya-tanya, apakah aku seorang lesbian atau bukan. Jadi aku menghabiskan banyak waktu di internet mencari informasi tentang LGBT.

Aku belajar bahwa ketertarikan terhadap sesama jenis kelamin, perasaan tidak sinkron antara identitas gender dengan jenis kelamin, dan merasa berbeda dari seksualitas umum sudah dirasakan sejak masih anak-anak. Di beberapa kasus, anak itu sendiri belum merasakan ada sesuatu yang berbeda tetapi orang tua, terutama ibu, melihatnya pada diri anak mereka.

Kebanyakan coming in dan coming out terjadi pada usia dewasa ketika seseorang sudah memiliki kesadaran kritis, pengetahuan lebih banyak, pergaulan lebih luas, keberanian untuk bersuara, mandiri secara finansial, dan faktor lain yang membantunya mengartikulasikan seksualitas yang dianggap berbeda. Bukan berarti orientasi seksual baru muncul atau ditentukan pada saat dewasa. Orientasi seksual bukan sebuah pilihan bahkan gaya hidup, atau akibat negatif dari pergaulan yang salah, akibat dari pemerkosaan, atau akibat dari trauma masa lalu. Keputusan untuk berbicara (coming out) adalah pilihan dan hak seseorang untuk menyampaikan identitas gendernya. Sebagian besar LGBT terlahir dengan seksualitas yang berbeda dari yang diketahui masyarakat. Dengan kata lain, LGBT merupakan seksualitas yang terberi.

Pengalamanku bersama Kojigema Institute membuka mata bahwa LGBTIQ juga dialami penyandang disabilitas. Dalam beberapa kegiatan dengan Kojigema Institute, aku berkenalan dan berteman dengan teman-teman yang mengalami autisme dalam berbagai spektrum, tuna daksa, dan tuli. Kondisi tersebut memberi tekanan lebih besar dan diskrimasi berlapis bagi teman-teman LGBTIQ.

Kojigema Institute pernah bekerja dengan siswa-siswi dari SLB (Sekolah Luar Biasa) tingkat SD, SMP, dan SMA. Kami juga pernah bekerja dengan siswa-siswi SMA umum. Identitas gender dari pendamping dan pendidik kami beragam. Fokus isu kami adalah hak kesehatan seksual dan reproduksi. Beberapa pihak yang mengetahui kerja kami pernah menilai kami “menyebarkan LGBT” ke anak-anak sekolah. Masih kuat anggapan bahwa orientasi seksual selain heteroseksual adalah menyimpang dan dapat menular. Selain itu, sama seperti pernyataan di atas, kebanyakan menganggap bahwa LGBTIQ hanya terjadi pada orang dewasa, bukan anak-anak apalagi penyandang disabilitas.

Lalu ngapain sih aku menulis tentang pengalaman ini? Karena pengalaman tersebut membuka mata batinku pada hal baru sehingga mengubah cara berpikirku atau biasku terhadap seksualitas. Kalau ada yang bertanya, “Tapi apa gunanya sementara kita sendiri hetero?”. Kesadaran kritis baru selalu mendorong seseorang untuk bertanya dan tidak pernah sepenuhnya puas dengan “jawaban” atau “kebenaran” yang sudah ada. Proses bertanya tadi membuatku menjadi reflektif, selalu bersyukur dengan apa yang dimiliki dan tidak dimiliki, dan menjalani setiap tanggung jawab dengan sebaik-baiknya. You will love yourself, even more because you respect, accept, and learn from your flaws.

Leave a Reply

Your email address will not be published.