Pengalaman-Saya

Anak-anak era PJJ

Sejak terjadinya pandemi Covid-19, dunia pendidikan di Indonesia terpaksa memindahkan proses belajar mengajar dari sekolah ke rumah. Alasan utama adalah memutus mata rantai penyebaran virus corona. Kebijakan ini berdampak ke banyak pihak, seperti orang tua, terutama para ibu, yang beban kerja di rumah berlipat tiga sampai empat kali, tergantung jumlah anak. Berdasarkan bacaan, ada dua metode belajar yaitu Pembelajaran Jarak Jauh Dalam Jaringan (PJJ Daring) yang berbasis internet dan PPJ Luar Jaringan (Luring) yang dilakukan melalui radio, modul belajar mandiri, dan bahan cetak. Namun, secara umum kalau bicara PJJ biasanya merujuk ke belajar melalui internet.

Sahabat perempuanku memiliki tiga anak yang sekolah mulai dari yang paling kecil kelas 1 SD sampai yang tertua di kelas 2 SMP. Jangan dibayangkan! Aku saja tidak bisa membayangkan kerepotan yang dia alami. Dia bercerita bahwa sejak PJJ diberlakukan, dia merasa memiliki beberapa atasan yaitu guru dari setiap anaknya. Dalam seminggu, sahabatku yang terpaksa berperan sebagai ibu merangkap tutor untuk anak SD dan SMP mendapat tenggat waktu pengumpulan tugas. Tidak heran kalau banyak orang tua, terutama ibu yang stres menghadapi dampak pandemi. Virus Covid-19 cuma sebagian kecil yang ditakuti para ibu.

Aku sendiri sulit membayangkan menjadi anak-anak di masa pandemi ini. Tempat bermain di ruang publik dibatasi kalau tidak ditutup. Sekolah dipindah ke rumah. Di perumahanku, anak-anak yang tertular Covid-19 dikarantina dan anak-anak lain dibatasi ruang geraknya. Sebagai orang dewasa, aku merasa karantina mandiri selama 14 hari di rumah sangat membosankan. Apalagi anak-anak.

Di media sosial ada yang berujar bahwa masih untung kita mengalami pandemi di saat ada jaringan internet dan konten yang banyak. Sebanyak apapun konten di internet, aku merasa bosan. Lagipula, tidak semua rumah tangga punya akses tidak terbatas ke jaringan internet yang cepat. Tuhan, apakah harus bersyukur karena aku sudah menyelesaikan pendidikan formal?

Kalau mengingat lagi, aku baru rutin mengakses internet ketika mulai kuliah. Itu pun mengakses di warung internet (warnet), bukan di rumah. Biasanya harus menabung dengan mengurangi makan siang dan mencari warnet yang menawarkan paket hemat. Biasanya warnet yang seperti ini, AC seadanya, lesehan, lokasi nyempil di lantai dua atau tiga atau di pojokan gang.

Saya masih sulit membayangkan menjadi anak-anak di era PJJ sekarang. Rasanya aku tidak bisa berkembang maksimal. Aku juga merasa kasihan dengan ibuku yang harus bekerja sebagai sales/penjual barang kalau harus di rumah menjadi tutor. Ya, aku bersyukur masa sekolah formal sudah selesai.

Bogor, Februari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.