Pengetahuan-Saya

Aku ingin menggugat Tuhan karena menciptakan perempuan

Minggu lalu aku membaca cerita seorang korban kekerasan seksual di akun IG dari sebuah komunitas yang mengelola ruang aman bagi masyarakat umum. Inti ceritanya adalah dia mengalami kekerasan berulang sampai melakukan aborsi tiga kali. Di dalam cerita dituliskan bahwa pelaku melakukan berbagai cara untuk membuat korban melakukan apa yang diminta tanpa ada imbalan materil yang diterima korban. Sayangnya, di cerita tersebut tidak disampaikan lebih detil tentang “berbagai cara” manipulasi yang dilakukan pelaku. Menurutku detil tersebut sangat penting karena banyak sekali perempuan dan masyarakat umum yang terjebak dengan istilah “mau sama mau”.

“Mau sama mau” atau “saling suka” hanya dapat dilakukan ketika kedua pihak secara struktural berada dalam posisi setara. Dalam kasus ini, dan banyak kasus lain, korban secara struktural berada dalam kekuasaan pelaku karena korban bekerja sebagai bawahan pelaku. Dalam cerita tersebut, korban sudah berusaha keluar dari tempat kerja tapi pelaku masih bisa “menguasai” korban.

Aku merasa marah membaca cerita tersebut. Aku marah dengan pelaku dan korban. Aku merasa muak dengan sebegitu lemahnya korban sampai dijebak oleh pelaku. Aku merasa muak dengan begitu kuasanya pelaku sampai bisa melakukan kekerasan berulang tanpa hukuman formal dan sosial. Aku merasa sesak karena berempati dengan ketidakberdayaan yang dialami korban.

Aku akan sangat muak kalau aku tahu orang tua korban justru mendukung pelaku, kalau istri pelaku justru menyalahkan korban, dan kalau tahu polisi menangkapnya karena melakukan aborsi. Sampai sekarang pun aku masih ingat membaca berita tentang seorang perempuan muda yang ditangkap setelah melahirkan bayi dan “membunuhnya” di kamar mandi umum. Berita itu aku baca tahun 2007, saat aku masih kos di Jogja. Aku kayak hampir gila karena marah, sangat marah membaca berita itu. Perempuan muda itu belum menikah dan pasangannya tidak diketahui dan tidak dibahas sama sekali di berita itu. Kurang ajar tingkat dewa!

Cerita di IG itu aku baca sekitar dua minggu lalu dan masih membayangiku sampai sekarang. Aku merasa sakit hati. Aku merasa dicurangi oleh sistem yang tidak adil. Aku ingin menggugat Tuhan karena menciptakan perempuan.

Begini. Buat apa perempuan diciptakan kalau diperlakukan tidak adil? Buat apa ada vagina di tubuh perempuan? Coba pikirkan, renungkan!

Aku bisa menerima bahwa semua manusia memiliki tulang tapi kenapa tidak semua manusia punya vagina? Kalau memang Tuhan ada, kenapa manusia tidak diciptakan sama? Oke, Tuhan punya maksud tertentu. Apakah ketidakadilan bagi perempuan adalah rencana Tuhan?

Aku ingin bertanya dengan kemarahan. Tidak usah dijawab dengan romantisme sufi tentang keagungan seorang perempuan atau keutamaan seorang ibu. Di balik keagungan dan keutamaan perempuan selalu ada cerita pengorbanan dan penderitaan yang membuat aku mual. Aku adalah sedikit dari perempuan dan laki-laki yang beruntung karena tidak pernah merasakan hamil. Betul, kalau perempuan lain bersuara bahagia karena kehamilan mereka, aku ingin menyatakan diri bahagia karena ketidakhamilanku.

Selain vagina, sebagian besar perempuan juga punya uterus. Cobalah, bagaimana itu masuk akal? Tuhan yang kita semua percaya hanya memberikan uterus kepada perempuan. Kok bisa? Jangan bilang bahwa ini keistimewaan perempuan kalau belum tahu masalah yang muncul akibat uterus.

Sel telur yang luar biasa juga hanya dimiliki perempuan. Terima kasih Tuhan. Apakah sel telur itu membuat perempuan menjadi lebih cocok membersihkan rumah, menyuapi balita, dan mencuci baju? Oh, tidak. Baiklah. Lalu dengan sel telur dan uterus tadi, perempuan punya potensi untuk hamil selama hampir 9 bulan. Hamil itu berarti ada calon manusia yang perlu mengambil makan minum dari ibunya. Lalu ketika melahirkan, kami harus bayar tenaga kesehatan dan rumah sakit? Ketika tidak mau hamil, alat kontrasepsi tidak otomatis tersedia secara gratis dan mudah didapat. Uterus dan sel telur perempuan dianggap mainan. Oh, tidak itu saja, nyawa perempuan pun dianggap tergantikan.

Ya sudah. Aku tutup buku jadi perempuan yang diinginkan oleh kalian. Aku sudah tidak tahan.

Bogor, 21 Februari 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.