Pengalaman-Saya

Kelelahan psikis alias burn out

Setelah belajar tentang well-being dan kesehatan mental, akhirnya aku bisa mendiagnosa diri sendiri ketika mengalami burn out atau kelelahan psikis. Aku ingat pernah mengalaminya tahun 2014 di Bangkok, Thailand. Di suatu forum, aku melakukan presentasi tentang lembagaku. Tiba-tiba aku menangis. Waktu itu aku menyebutnya sebagai “melt down” karena aku merasa secara mendadak psikisku luruh, mencair, dan menggenang tidak bisa kemana-mana. Aku merasa seperti air yang berada di tempat datar, tidak bisa bergerak dan menunggu menguap.

Pada forum itu, aku mengikuti satu sesi tentang kesehatan mental aktivis. Entah kenapa, aku belum menghubungkan antara pengalamanku burn out di forum yang sama dengan kesehatan mental. Mungkin aku merasa para aktivis perempuan sendiri banyak yang kurang memperhatikan atau bahkan meremehkan dampak dari kelelahan psikis pada kesehatan mental dan kehidupan pribadi aktivis. Aku pun dulu seperti itu.

Seorang sahabatku yang beberapa kali mengalami depresi dan kelelahan psikis sering menceritakan pengalamannya. Berhubung aku merasa, dan terus meyakinkan diriku sendiri, bahwa mentalku sehat aku tidak dapat memberikan empati. Aku sendiri bingung dan bertanya-tanya, “Kenapa dia merasa seperti itu? Kenapa dia sulit bangkit? Kenapa dia merasa lemah?”

Biasanya aku mudah bangkit dari kelelahan psikis sehingga aku kembali merasa “sehat” dan “kuat”. Namun, selama satu bulan terakhir, aku merasa perlu istirahat khusus dan memulihkan kesehatan psikis yang dulu aku anggap baik-baik saja. Aku merasakan keanehan pada diriku sendiri.

Contohnya, aku sedang bekerja di depan komputer lalu tiba-tiba merasa sangat sedih. Di kesempatan lain, aku menangis di depan komputer tanpa alasan jelas. Maksudku, kalaupun aku sedih dan menangis, biasanya ada alasan yang aku ketahui sehingga aku tahu cara menghadapinya. Dalam dua minggu terakhir, tiga kali aku mengalami sakit kepala. Dari tiga kali itu, salah satunya aku minum pereda nyeri karena aku tidak tahan. Beberapa bulan sebelumnya, irama tidurku berantakan. Aku kurang tidur karena meskipun ditotal aku tidur 6-7 jam tapi terpotong-potong dan tidak nyenyak. Misalnya di siang hari tidur 2 jam, malam 2-3 jam, lalu terbangun dan tidak bisa tidur sampai jam 4 lalu tidur 2 jam lagi. Kadang dalam sehari tidur 5 jam dan tidak merasa benar-benar istirahat.

Empat hari lalu, aku menceritakan pengalamanku ini ke pasangan yang sayangnya tidak memahami ceritaku dan persoalan kelelahan psikis. Aku langsung menangis terisak-isak, tidak tertahankan, selama sekitar 20 menit. Dia tidak acuh dan tidak memelukku. Setelah menangis, aku tetap merasa sangat sedih selama 2-3 jam. Sampai aku bertanya ke diri sendiri, “Kalau aku punya pasangan tetapi dia tidak bisa berempati dan berusaha menenangkan aku ketika aku kelelahan, lalu buat apa aku punya pasangan?”

Minggu lalu, ketika berada di Padang, aku bertemu temanku yang pernah mengalami burn out dalam waktu cukup lama dan sampai sekarang masih dalam perawatan psikiater. Salah satu hal baru yang dia sampaikan adalah perlunya jeda atau istirahat bagi seseorang yang baru selesai studi, terutama S2 dan S3. Aku memang tidak melakukannya. Aku cukup percaya diri dan merasa dipercaya oleh teman-teman untuk menjadi koordinator di lembaga sebelumnya, bahkan sebelum aku lulus. Jadi aku diberi mandat sebagai koordinator di lembaga pada Februari 2019 dan aku baru selesai promosi doktor pada bulan September 2019. Setelah itu aku masih sering ke kampus mengurus administrasi wisuda dan ijazah sampai Februari 2020. Lanjut terus sampai sekarang.

Pada waktu pertengahan 2019 itu aku sudah merasa ada yang tidak beres dengan diriku sendiri. Aku terlalu cemas dengan ujian, jurnal, dan administrasi di kampus. Jadwal tidurku terganggu sehingga mengganggu pekerjaan karena ketika bangun tidur bukannya merasa segar, aku justru merasa capek, lelah, dan lemas. Seperti itu juga yang aku rasakan sekarang. Karena kurang tidur atau tidur tapi tidak nyenyak di malam hari, aku merasa seperti melayang dan merasa tidak bertenaga di pagi hari.

Aku juga menghubungkan kelelahan psikis ini dengan usiaku yang memasuki 42 tahun pada April tahun ini. Mungkin ada fase krisis paruh baya yang aku alami. Siapa tahu? Mungkin ada kekhawatiran soal menopause karena ibuku mengalami menopause usia 45 tahun. Ada kemungkinan aku akan mengalami menopause awal. Intinya aku merasa harus melakukan sesuatu dan tidak ingin membiarkannya seperti yang lalu. Aku ingin memulihkan diri dari berbagai kecemasan yang mengganggu pola tidur dan membuat aku sedih tidak terkendali.

Bogor, 6 Maret 2021

Leave a Reply

Your email address will not be published.