Pengalaman-Saya

Istirahat dulu

Aku bertanya pada diriku sendiri. “Apa yang membuatmu memutuskan untuk mengambil istirahat satu bulan?” Karena aku merasa ada yang aneh dalam diriku. You just know it.

Sebelumnya, ketika aku merasa burnout atau lelah secara psikis, aku dapat mengatasinya dengan cepat. Sejak 2019, kemampuan coping atau menghadapi burnout melambat. Aku perlu waktu lebih lama untuk bangkit. Namun, kali ini perasaan aneh dan kelelahan psikis itu tidak dapat “diobati” dengan jalan-jalan, wisata kuliner, nonton film, nongkrong dengan teman, dll. Aku merasa luapan kelelahan ini bukan hal yang sepenuhnya dapat aku kendalikan.

Aku ingat sekali ketika seorang temanku mengalami burnout dan berkembang menjadi gangguan kejiwaan yang parah, sebagian orang menyebutnya paranoid. Sebagian orang merasa dia terlalu mengada-ada. Ungkapan seperti itu yang sepertinya membuat banyak orang atau penderita burnout merasa tidak didengar, menganggap gangguan yang mereka alami hanya khayalan, berusaha pulih sendiri, tidak mencari bantuan profesional, menjaga jarak, atau bahkan bersembunyi dari komunitasnya.

Seringkali aku membandingkan pekerjaan dan kehidupanku dengan orang lain yang menurutku lebih berat, lebih menderita, lebih stres sehingga aku meremehkan kelelahan psikis. Aku merasa dengan cara itu, aku dapat memberi semangat untuk bangkit. Namun, kali ini cara itu tidak berhasil. Aku juga belajar bahwa kelelahan psikis bisa muncul di kala kamu bahagia, di puncak karir, atau semacamnya. Ya sudah, istirahatlah dulu.

Leave a Reply

Your email address will not be published.