Perjalanan-Saya

Pencapaian selama 3 hari

Pada konseling minggu lalu, aku menyatakan bahwa menyelesaikan laporan semester dan tahunan tidak aku anggap sebagai pencapaian. Bahkan tidak termasuk pencapaian kecil. Aku merasa target tersebut sudah dibuat oleh pihak lain yang harus aku sepakati dengan suatu imbalan. Akhirnya aku membuat sendiri pencapaianku, yaitu target yang aku buat untuk diriku sendiri.

Target 1. Selesai membaca 1 buku selama 1 minggu. Temanya bebas.
Target 2. Berjalan kaki minimal 3 KM setiap hari.
Target 3. Maksimal hanya 3 jam/hari membuka atau menggunakan Instagram.
Malamnya aku langsung ke Togamas di Suhat untuk membeli 2 buku. Satu kumpulan puisi, satunya kumpulan cerpen.

Sabtu, 17 April. Lumayan, bisa membaca beberapa halaman. Buku puisi itu lebih sulit dibaca dibanding kumpulan cerpen karena perlu berimajinasi untuk memahami pesan yang terkandung di setiap larik. Kumpulan puisi ini berjudul “Kiat-kiat Menyembuhkan Lara” dibuat oleh pasangan suami istri muda yang tinggal di Jogja. Sejauh ini yang aku tangkap memuat pesan perpisahan, jatuh cinta, pertemuan, kerinduan, kekesalan, pendekatan, dan penolakan. Aku bisa menghayati gemuruh perasaan di setiap puisi.

Aku juga berhasil berjalan kaki 4 KM dengan memutari komplek perumahan orang tua dan sama sekali tidak membuka IG karena aku tidak membawa tablet ke rumah orang tua.

Minggu, 18 April. Aku sedikit saja membaca buku puisi. Aku membantu ibu ke desanya untuk mengurus sengketa tanah. Lalu berkunjung ke rumah sepupu yang baru melahirkan sebulan lalu. Selalu ada bude yang mendoakan agar aku cepat punya anak. Sorenya aku pulang ke Malang, sedikit kehujanan di jalan. Aku sempatkan untuk berjalan di treadmill. Berhasil sampai 2,3 KM dan hanya 2,5 jam membuka IG. Ketika buka IG, ada informasi tentang fanfic dalam Bahasa Inggris yang bagus. Kurang lebih dalam 3 jam aku selesai sampai bab 11. Isi setiap bab pendek dan berhubung aku Taekookers, aku menikmati ceritanya. Plot dan karakternya bagus.

Senin, 19 April. Hari ini berhasil berjalan di treadmill 2,6 KM dan membuka IG sekitar 2 jam. Sebentar saja aku meneruskan buku puisi karena masih fokus membaca fanfic. Targetnya hari ini selesai sampai bab 24, itu pun masih berlanjut.

Dari konseling kemarin, aku juga belajar kalau beberapa emosi sering dilekatkan dengan sifat negatif sehingga aku merasa dituntut untuk menunjukkan segelintir emosi yang dianggap positif dan layak untuk konteks tertentu. Misalnya, emosi gembira lebih disukai daripada marah. Seingatku sejak kecil, aku diajari oleh guru mengaji bahwa ketika manusia marah, dia sedang dikuasai oleh kekuatan iblis. Orang yang sedang marah dianggap tidak bisa berpikir dingin, mengambil keputusan dengan ceroboh, kasar, dan tidak menghargai orang lain. Aku menghindari marah tapi aku pernah merasakan marah. Namun perasaan itu aku alihkan atau dimunculkan sebagai perasaan sedih. Kebanyakan orang lebih mudah menerima dan berempati pada orang yang sedih daripada orang yang marah.

Aku sendiri merasa tidak nyaman jika melihat atau mendengarkan bapakku yang sedang marah. Aku sekeluarga akan menghindari bapak. Kemarahan itu menakutkan. Seseorang yang marah kadang menjadi kasar karena ingin menunjukkan kekuatan dan kekuasaannya.

Emosi juga bergender karena perempuan seringkali dianggap lebih cocok menunjukkan emosi tertentu dibanding laki-laki. Karena aku dibesarkan sebagai perempuan, aku merasa menangis ketika marah lebih diterima dibanding berteriak atau membentak.

Leave a Reply

Your email address will not be published.