Perjalanan-Saya

Perempuan yang marah

Aku pernah menulis tentang kemarahan perempuan di artikel “Mengalami Feminisme” (https://becomingfeminist.id/2020/06/06/feminisme-dan-filsafat/). Sedikit aku kutip.

Aku perlu menyebutkan hal ini karena sempat ada pertanyaan, “Bisa gak sih perjuangan keadilan gender tidak dimulai dari kemarahan, bukan dari perempuan yang marah-marah (misuh-misuh)?” Marah itu akibat dari ketidakadilan dan penindasan yang sistematis. Marah itu alami dan hak setiap manusia. Pertanyaan ini berangkat dari stereotipe feminisme sebagai sosok perempuan marah, kecewa, frustasi yang menjadi sosok radikal sehingga kehilangan sisi femininnya. Karena perempuan yang marah dianggap tidak feminin, dia menjadi tidak menarik bagi laki-laki.

Aku termasuk perempuan yang pernah mengalami dan memendam kemarahan selama bertahun-tahun. Alasannya? Menurutku alasan utama adalah pelecehan seksual yang aku alami semasa SD dan SMP. Pelecehan seksual itu dilakukan berulang sehingga kemarahanku bertumpuk dan aku tidak tahu cara menguraikan atau mengelolanya. Tidak ada yang pernah memberitahu tentang pelecehan seksual, ruang aman, cara melawan, cara melapor, dan sebagainya. Aku marah ke pelaku, ke diri sendiri, ke tubuh perempuanku.

Aku juga pernah mengalami pelecehan di bus kota ketika kuliah dan pelecehan verbal ketika bekerja di Probolinggo. Ketika aku mengundurkan diri dari pekerjaan di Probolinggo, orang tua justru tidak mendukung dan aku dianggap terlalu mempermasalahkan pelecehan. Selain itu, aku pernah dibully dan diperlakukan berbeda karena memakai tindik di bibir ketika berjilbab. Jadi kemarahan yang sudah ada dan belum diurai dan belum aku pahami semakin menumpuk.

Aku bukan orang yang ekspresif, cenderung tertutup. Aku hanya bisa menulis seperti ini.

Capek banget memendam kemarahan dan membenci diri sendiri selama bertahun-tahun. Selama periode itu aku sering menangis sendiri di kamar, menghibur diri sendiri. Aku pernah mencoba menggambar untuk rilis stres tapi orang tua justru menilainya jelek dan tidak layak dipajang di kamar. Aku belajar kalau orang tua bisa jadi pem-bully luar biasa dari anak-anaknya.

Proses memulihkan diri perlu bertahun-tahun ditemani oleh sahabat, buku-buku, tulisan di blog, dan diskusi dengan dosen. Aku merasa sudah pulih tetapi kondisi mental saat ini membuatku mempertanyakan lagi, bagaimana aku tahu aku sudah pulih? Apakah trauma yang dulu bisa kembali lagi?

Leave a Reply

Your email address will not be published.