Perjalanan-Saya

How is your heart today?

Dari akun IG @apocalynds menulis:

I wanna share something my therapist said about anger that blew my mind. Your anger is the part of you that knows your mistreatment and abuse are unacceptable. Your anger knows you deserve to be treated well, and with kindness. Your anger is a part of you that loves you.

Aku menulis tentang “anger” karena topik diskusi konseling selama dua kali sebelumnya membahas tentang rasa marah yang aku alami sebagai akibat kekerasan seksual yang pernah aku alami di waktu kecil. Pada saat yang sama, marah secara umum dianggap sebagai emosi yang negatif apalagi jika diekspresikan dengan berteriak kepada orang lain atau di ruang publik atau dengan menyebut kata-kata kasar.

How is your heart today?

Aku membaca sebuah tulisan di IG yang menulis bahwa seseorang perlu menyapa hati kecil kita. Ketika seseorang merasakan kemarahan atau kesedihan, dia perlu bertanya ke perasaannya tersebut seperti ibu yang bertanya ke anak kecil. Do you need a space to unpack your anger atau sadness? Hal yang sama juga disampaikan oleh konselorku. Lalu apa jawabanku dari pertanyaan tentang kabar hatiku hari ini? Aku sedang menjaga hati supaya terbuka dengan berbagai kerentanan, kesedihan, dan kebahagiaan. Enggak mudah sih membuat hati terbuka dan menjaganya karena aku khawatir jika aku “marah” lagi. Soalnya capek bertahun-tahun “marah” pada diri sendiri dan keadaan yang tidak bisa aku kontrol. Capek banget “marah” tapi tidak bisa diekspresikan dan dibagikan; bisanya nangis sendiri, kadang sampai sesak di dada. Capek dan bingung karena tidak tahu kemarahan ini mau diapakan dan mau dibawa ke mana.

Akun IG @breakingdowncptsd menulis begini: after years of accumulated trauma, it makes sense that I would consciously start to associate trauma with my body. My body held tremendous pain, grief, rejection, betrayal, and abandonment from trauma. In my need to survive and cope, I pushed my body away. I tried to keep her quiet, numbing all that she hold. Trauma is stored in our bodies.

Seperti itulah aku selama bertahun-tahun, membenci tubuh sendiri terutama payudara. Dulu aku tidak tahu tentang patriarki, feminisme, trauma, kekerasan seksual, dll. Aku tidak merasa nyaman hidup dengan tubuhku karena dia sudah mengalami trauma, dia disakiti, dan tidak mendapat empati dari orang lain terutama orang tua. Kalau aku sendiri tidak mendapat pelukan, dukungan, empati dari orang lain, bagaimana aku bisa memberi empati dan mencintai hatiku sendiri?

Leave a Reply

Your email address will not be published.