Pengalaman-Saya

Jurnal pemulihan-2

Tanggal 27 April aku masih bisa mencapai target untuk berolahraga dan membaca. Aku merasa punya ruang bebas yang fleksibel banget. Tanggal 28 sampai 30 April mulai kembali ke pola lama. Tanggal 28 aku masih bisa membaca dengan tenang tapi aku tinggal di rumah mertua selama beberapa jam. Tanggal 29 jam 7 pagi aku mulai melakukan perjalanan pulang ke Bogor. Aku tidak antusias kembali ke Bogor dan pekerjaan. Sepanjang perjalanan aku mengantuk dan untungnya bisa tidur. Aku senang banget bisa tidur pulas.

Tanggal 29 April jam 10 malam aku tiba di rumah. Anak-anak kucing merasa asing denganku. Badanku capek. Tanggal 30 April, bangun pagi sahur, tidur sebentar lalu bersiap masuk kerja dengan ikut pertemuan di Depok. Aku senang bisa bertemu dengan Devina dan berbuka bersama. Tapi aku tetap merasa mengantuk. Aku senang bisa mengikuti kegiatan tapi kurang antusias. Aku tidak berolahraga dan hanya sedikit membaca fanfiction. Aku tidak membatasi diri untuk membuka IG tetapi lebih bisa mengontrol.

Aku kurang merasa peka dengan emosiku karena ada banyak di dalam pikiran ketika berada di rumah. Sampai di rumah, aku lihat tidak ada beras, telur, beberapa keperluan rumah sudah habis, dan bunga es di kulkas menebal. Aku menolak membeli beras dan masak nasi. Aku menolak membeli telur. Aku menolak belanja bahan makanan ke swalayan. Suami membeli makanan sendiri. Aku juga beli makan sendiri. Ada beberapa makanan beku di kulkas dan itu yang aku masak seadanya. Sejak tanggal 30 April, aku tidak makan nasi. Entah sampai kapan. Aku sih senang dan merasa nyaman karena perut tidak terasa penuh. Aku sahur dan buka dengan ayam, kentang kering, dan air putih sudah cukup. Badan berasa enteng.

Di rumah aku tidak punya ruang pribadi untuk senam. Aku tadinya berencana 1,5 jam sebelum berbuka akan berjalan kaki memutari komplek perumahan, tapi itu tidak terlaksana. Aku merasa malas untuk bergerak dan tidak ada motivasi. Padahal biasanya aku paling suka jalan ke mal atau swalayan, kadang tidak membeli apa-apa, cuma jalan keliling dan berada di tengah keramaian saja membuat aku senang. Aku tidak banyak ngobrol dengan suami. Aku malas dan merasa tidak ada alasan untuk ngobrol dengan suami. Dia bukan pendengar yang baik dan sepertinya tidak tertarik juga dengan pengalamanku selama di Malang. Berbeda dengan teman-teman kerja yang cukup antusias dan penasaran dengan proses yang aku alami selama cuti.

Leave a Reply

Your email address will not be published.