Pengalaman-Saya

Cuti kelelahan

Aku tidak pernah menyangka bahwa suatu hari aku akan mengambil cuti satu bulan. Dan cuti itu tidak aku gunakan untuk berlibur tapi untuk merawat diri.

Di tulisan sebelumnya berjudul Istirahat Dulu dan Kelelahan Psikis atau Burnout, aku menceritakan alasan mengapa aku mengambil cuti dan kenapa satu bulan. Percayalah, kamu akan tahu ketika kamu mengalami kelelahan psikis dan memerlukan istirahat. Tubuhmu akan memberi tahu dengan berbagai cara. Mungkin orang-orang di sekelilingmu akan memberi respon yang tidak biasa atau kamu sendiri yang ingin menjauhi teman-teman. Kamu bisa jadi merasa asing dengan diri dan emosi yang dirasakan. Kamu akan tahu. Begitu juga aku.

Kamu juga akan tahu jika kelelahan psikis yang dialami tidak lagi bisa diabaikan atau dipulihkan dengan nongkrong di taman atau jalan-jalan ke pantai atau ke gunung. Ada persoalan yang harus ditemukan, dirangkul, dan didamaikan. Sebelumnya aku merasa sudah pulih dari pengalaman kekerasan seksual karena sudah bisa memaknai dan merasa nyaman dengan diri sendiri. Lalu aku belajar kalau pemulihan merupakan working on progress dan merawat diri perlu dilakukan secara berkala, tidak menunggu sampai burnout atau sampai kamu merasa terasing dari diri sendiri.

Tidak ada yang nyaman dengan mengambil cuti satu bulan, apalagi di masa pelaporan. Lima hari pertama aku masih bekerja tetapi dari lokasi yang jauh. Jurnal yang aku buat masih berupa pointer dan kelihatan sekali kalau aku kurang memberi perhatian pada pemulihan diri sendiri. Jurnal pemulihan yang aku buat kering dan sedikit sekali menceritakan tentang emosi yang aku rasakan. Setelah semua laporan selesai, konselor menekankan aku harus berhenti sama sekali dari pekerjaan dan fokus pada pemulihan diri. Kalau tidak begitu, cuti satu bulan ini tidak akan berhasil. Oke, aku setuju.

Aku merasa lebih tenang karena aku tahu aku tidak sendiri dan bahwa burnout kadang terjadi dalam beberapa episode kehidupan. Ada kemungkinan aku akan mengalami kelelahan psikis lagi, perlu menghadapinya lagi. Selalu ada periode powerless dan powerful dalam setiap tahap kehidupan. Tapi jangan diabaikan dan dianggap remeh.

Rasanya tidak nyaman mengambil cuti satu bulan, bahkan seperti ada rasa bersalah karena tidak bisa optimal membantu teman-teman bekerja. Namun, kalau aku tidak merawat diri, aku semakin tidak optimal dalam bekerja, aku akan berjarak atau bahkan “nyebelin” ke teman-teman, dan bisa jadi aku mengundurkan diri secara tiba-tiba.

Salah satu tantangan ketika mengambil cuti satu bulan untuk pemulihan diri adalah fokus pada proses konseling. Setiap hari berusaha lebih peka dengan perasaan diri sendiri, bertanya kenapa kamu merasa ini dan itu, berusaha menenangkan diri sendiri, berbincang dengan inner self dan inner child. Bukan satu hal yang nyaman untuk melakukan semua itu dan menuliskannya. Apalagi dalam satu sesi konseling, aku diminta untuk mengingat kembali perasaan ketika aku mengalami kekerasan seksual. Becanda banget ini, aku membatin. Tapi mau tidak mau, aku perlu membicarakan tentang kemarahan yang bertahun-tahun hidup dan berusaha aku ekspresikan dalam bentuk jilbab, tindik bibir, gambar-gambar abstrak, kumpulan puisi, dan ikut mata kuliah feminis. Tidak sepenuhnya berhasil, sampai aku masuk prodi Kajian Wanita (sekarang Kajian Gender) UI dan banyak membaca refleksi dari perempuan-perempuan marah lainnya.

Meskipun sudah menghayati feminisme, aku tetap merasa perempuan yang marah bukan sosok yang ideal. Kalaupun marah, ekspresinya menangis jadi seakan bukan marah tetapi sedih. Padahal ya marah. Akhirnya aku menekan rasa marah dan hasilnya tidak baik, apalagi kalau sampai bertahun-tahun. Aku belajar dari proses konseling bahwa manusia memberi label baik dan buruk pada emosi, padahal seluruh emosi netral dan dapat terjadi pada semua manusia. Emosi juga dibuat bergender, ada yang pantas untuk perempuan dan laki-laki. Tidak heran aku capek secara psikis karena tidak ada rilis, tidak bisa mengekspresikan emosi. Belum lagi selama bekerja di isu perempuan, selalu ada yang membuat diri powerless, merasa tidak berhasil, merasa buntu, dan kayak mempertanyakan, aku lagi ngapain sih?

Cuti satu bulan untuk merawat diri merupakan keistimewaan. Aku berharap tidak perlu melakukannya lagi. Kalau memang nanti mengambil cuti ya untuk bersenang-senang dalam kondisi sehat secara psikis. Semoga.

Leave a Reply

Your email address will not be published.