Perjalanan-Saya

Serigala betina

Minggu ini aku sedang membaca buku Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan karya Ester Lianawati. Buku ini direkomendasikan konselorku. Aku kenal dengan penulisnya karena sama-sama lulusan Kajian Gender UI. Percaya atau tidak, ketika aku kelas 6 sampai awal SMP aku dijuluki macan dan serigala betina oleh beberapa teman karena aku sering mencakar lengan beberapa teman laki-laki di sekolah. Di luar sekolah, aku juga dikenal “galak” dengan anak laki-laki. Aku belum tahu apa yang dimaksud dengan serigala betina dalam buku Mbak Ester karena belum selesai membaca. Namun, kalau secara harfiah aku tahu bahwa ada “serigala betina” yang marah dalam diriku.

Serigala betina ini berproses, berkembang, dan berubah. Serigala betina yang dulu imut dan takut menjadi serigala betina yang cukup percaya diri meskipun kadang merasa insecure dengan dirinya sendiri. Serigala betina ini pernah mengalami kegalauan dan kelelahan psikis. Dia galak karena dia pemalu, penyendiri, dan pernah terluka. Teritori tubuhnya pernah dilanggar dan dia merasa tidak memiliki kawanan serigala yang bisa melindunginya.

Serigala betina ini sering menangis ketika remaja dan di awal masa dewasa. Biasanya diam-diam di dalam kamar, ditutupi dengan suara musik dari radio yang biasanya berada di tempat tidurnya. Serigala betina ini masih memulihkan dirinya. Dulu dia tidak tahu bahwa dirinya serigala. Komunitasnya mengajari tentang karakter yang perlu dimiliki seorang serigala betina yang baik tapi dia tidak sepenuhnya bisa memenuhi karakter ideal itu. Jadi dia mempertanyakan jika dirinya seorang serigala betina yang baik.

Serigala betina ini seorang peragu dan berusaha mendengarkan suara dari berbagai pihak sehingga sering memerlukan waktu agak lama untuk memutuskan sesuatu. Serigala betina ini dulunya merasa dirinya tidak cocok terlahir sebagai serigala. Apalagi ketika dia sudah kawin selama 11 tahun dan tidak melahirkan anak serigala yang bisa dibanggakan bagi kawanan serigala.

Serigala betina ini kadang merasa lelah, lemah, dan tua. Hal itu karena bertahun-tahun dia menjadi serigala yang pemarah. Namun, dia bangga dengan perjalanannya dan suka bercerita dengan tulisan. Serigala betina ini masih penasaran kenapa dia bisa dijuluki serigala betina. Apakah karena dia dianggap berbahaya, berbeda, dan menakutkan? Dia tidak merasa terlahir sebagai serigala betina. Dia dijadikan serigala betina oleh orang-orang disekelilingnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published.