Pengalaman-Saya,  Uncategorized

Refleksi serigala betina

Tanggal 19-20 Mei 2021, aku tidak berjalan kaki tapi senam di dalam rumah. Lumayan berkeringat. Aku sempat kesal karena tanggal 19 Mei aku tidak jadi pijat. Sepertinya beberapa tukang pijat belum banyak yang kembali dari mudik. Aku tetap membaca fan-fiction. Aku jadi ingat, kalau misalnya 20 tahun lalu fan fiction ini jadi hits, aku mungkin akan jadi salah satu penulis yang produktif. Sepertinya kebanyakan penulis fan fiction ini berusia belasan sampai pertengahan 20 tahun.

Ketika membaca fan fiction, aku suka ditemani dengan koleksi suara Sounds for Brainspotting dari Kaka Ray. Aku juga suka mendengarkan lagu Winter Bear dari BTS V. Aku kadang-kadang mempraktikkan terapi menggenggam jari. Aku membaca petunjuknya di gambar ini. Aku paling sering menggenggam jempol dan jari tengah. Sebelum kenal dengan teknik ini aku kadang-kadang senang menggenggam jempol. Lalu beberapa bulan lalu setelah dipijat dan jari tengah agak sakit sampai sekarang, aku jadi senang menggenggam jari tengah.

Awal minggu ini aku sudah menyelesaikan membaca buku “Ada Serigala Betina dalam Diri Setiap Perempuan”. Ada beberapa bagian yang ingin aku tulis di blog ini karena sesuai dengan pengalamanku sendiri. Ada bagian dari buku yang menekankan bahwa perempuan rentan terhadap gangguan kesehatan psikis karena secara umum lebih rentan mengalami peristiwa traumatis yang berdampak panjang. Contohnya kekerasan seksual. Masalah tidak selesai dengan berlalunya peristiwa atau hilangnya luka fisik karena luka psikis lebih lama bertahan. Gangguan stres pascaperistiwa traumatis merupakan salah satu dari sekian banyak dampak yang muncul. Ketika seorang penyintas merasa sudah pulih pun, bisa jadi kenangan atau tanggapan orang terhadap trauma tersebut menjadi luka psikis baru. Misalnya orang tuaku yang meremehkan pengalaman pelecehan seksual yang aku alami.

Penulis juga menyatakan bahwa selalu ada kesempatan untuk bangkit dan berkembang secara positif pascatrauma. Pemulihan dan penyembuhan diri juga tidak dapat dibebankan seluruhnya hanya kepada perempuan secara individu sebagai korban. Pemulihan psikologis perlu dibantu oleh terapis, konselor, teman, dan kelompok sebaya. Masalahnya pemulihan ini kemudian diserahkan ke setiap individu untuk mencari pertolongan dan tidak semua teman atau orang di sekeliling korban memahami cara menolong atau mendengar dengan empati. Di buku ini juga ditulis tentang prinsip dasar terapi trauma yaitu menampilkan sikap empati, membangkitkan sikap realistis dan optimis, dan menumbuhkan harapan.

Di bagian penutup bab, penulis mengatakan bahwa pencapaian perempuan tidak hanya sebatas di bidang ekonomi, politik, dan sosial tetapi kemampuan psikis perempuan untuk keluar dari trauma dan menjadi pribadi resilien yang terus bertumbuh. Penyintas adalah orang-orang yang tidak saja mampu bertahan pascatrauma tetapi juga mampu tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik. Aku terharu dengan kalimat ini karena menurutku tidak banyak orang atau bahkan aktivis perempuan yang melihat pemulihan diri dari trauma sebagai suatu pencapaian karena tidak banyak diucapkan, ditulis, dibahas, atau diapresiasi. Aku dulu pun tidak melihat proses pemulihanku sebagai suatu pencapaian, apalagi karena pengalaman dan proses pemulihan itu sendiri kadang diremehkan atau tidak dipahami oleh orang tua dan beberapa teman. Proses burnout dilihat sebagai kelemahan perempuan menghadapi tantangan atau pekerjaan daripada dampak dari suatu sistem.

Salah satu dampak besar dari pengalaman kekerasan seksual yang aku alami adalah sering sekali menyensor diri sendiri. Entah apa ini namanya overthinking. Jadi aku sering mengedit tulisan, cara berpakaian, melakukan sesuatu dengan lebih banyak pertimbangan yang justru mengecilkan diriku sendiri. Jadi semacam budaya “cancel” tapi aku yang meng-cancel diriku sendiri.

Leave a Reply

Your email address will not be published.