Pengalaman-Saya

Memeluk jari telunjuk

Hari Senin (24/5) aku mendapatkan vaksin AstraZeneca pertama bersama dengan pendamping perempuan lain di Salemba. Vaksin kedua dijadwalkan pertengahan Agustus. Jarak vaksin untuk AZ memang lebih lama dari jenis vaksin lain. Suamiku sudah menerima 2 vaksin di bulan April dari perusahaannya. Aku tidak merasakan efek apapun di hari itu tetapi besoknya aku mulai demam. Efek ini sudah diduga dan dokter di lokasi juga sudah memberi dua butir parasetamol. Selain juga memberitahu kemungkinan demam dan meminum parasetamol jika obat yang diberikan tidak cukup. Hari ini demam berkurang tapi sakit kepala. Pada saat menulis jurnal ini, sakit kepala berkurang.

Hari ini aku tidak berolahraga. Sedang tidak bersemangat. Siang hari aku pijat di tempat langganan, badan lebih segar. Sebenarnya sedang ingin olahraga tapi aku sedang kesal dengan suami. Kemarin aku tidur di kamar kerja. Hari ini dia berangkat dinas ke luar Jakarta. Aku dan pasanganku ini lebih suka diam dan tidak peduli kalau ada masalah, entah apa karena kami berdua introvert atau kurang ekspresif menunjukkan perasaan.

Hari ini aku beberapa kali menggenggam jari telunjuk. Aku lupa telunjuk itu mewakili perasaan apa tapi aku sedang perlu menggenggamnya.

Sejak minggu lalu, orang tua memberi kabar salah seorang kerabat dekat laki-laki yang usianya jauh lebih muda dari bapak sakit berat. Beberapa tahun lalu kerabat ini terkena stroke, sempat membaik tapi bulan puasa kemarin kondisinya menurun. Minggu ini dia masuk IGD dan kemarin mendapat kabar kalau dia menggunakan alat bantu pernapasan. Ketika bapak halal bihalal sambil menjenguk, kerabat ini menangis di depannya. Bapak jadi kepikiran. Bapak sering membandingkan kekayaan kerabat ini dengan dirinya. Termasuk membandingkan kekayaan materi anak-anak kerabat ini dengan anak-anaknya, yaitu aku dan adikku. Aku hanya mengingatkan di berbagai kondisi, kesehatan mental dan jasmani adalah kekayaan tak ternilai.

Di tengah nulis ini, aku kok sakit kepala lagi ya?

Sekitar dua jam yang lalu aku menerima email dari seorang kawan dan aku sudah membalasnya. Aku sudah merasa cukup terinformasikan dengan persoalan yang terjadi sekitar 2 tahun lalu. Aku sudah mendapatkan konseling untuk persoalan tersebut yang membuatku tenang karena sebelumnya aku merasa bersalah dan merasa tidak berbuat banyak. Aku masih berusaha mendukung keduanya dengan berbagai cara yang aku bisa karena bagiku keduanya orang-orang penting yang pernah memberi dukungan sampai aku bisa berada di posisi ini. Buatku sudah cukup. Bagi kawanku, dia memerlukan ruang rekonsiliasi. Aku sudah memberi jawaban yang sesuai dengan kemampuanku saat ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published.