Perjalanan-Saya

Tiba-tiba

Beberapa saat lalu aku tiba-tiba merasa sedih jadi aku langsung menulis jurnal ini. Kerabat yang aku ceritakan dalam tulisan kemarin meninggal semalam. Kedua orang tuaku melayat ke rumahnya. Ibu cerita kalau bapakku berpelukan dan menangis dengan adik perempuannya. Bapakku dan adiknya lahir dari ayah yang berbeda. Kerabat yang meninggal ini adalah suami dari adik perempuannya.

Bapakku melayat menggunakan kursi roda pinjaman. Kenapa? Pascavaksin, dia merasa otot-ototnya kaku dan sakit dibuat berjalan. Ibuku sudah membantu dengan mencari pinjaman tongkat kaki tiga dan kaki empat ke tetangga. Bapakku tipe yang heboh kalau merasa sakit dan semua orang harus tahu kalau dia sakit. Beda banget dengan suamiku yang tidak banyak bicara kalau sakit.

Aku baru selesai ditelepon ibu. Kadang ada anak yang sering curhat ke orang tua. Berhubung aku dan suami pendiam dan agak tertutup, orang tuaku yang lebih banyak curhat ke aku. Banyak hal yang diceritakan dan biasanya aku hanya mendengarkan dan berusaha menenangkan.

Bapakku orang yang suka dengan kebersihan dan mudah terganggu dengan hal kecil yang dianggap kotor. Dia terobsesi membersihkan atau membenarkan sesuatu dengan cepat. Ibuku, aku, dan adikku sering dibuat kesal oleh obsesinya ini. Bapakku juga sangat peduli dengan gengsi. Jika si A punya anak kerja di suatu tempat dengan gaji sekian, dia akan membandingkan dengan anak-anaknya. Oke, biasalah itu. Tapi aku yang mendengarkan kadang heran, apa dia tidak capek melakukannya? Atau cuma orang di sekitarnya yang capek mendengarkan.

Aku merasa perlu menuliskan kesedihan yang tiba-tiba ini karena pagi sampai sore tadi perasaanku senang dan bersemangat. Aku berolahraga dan makan yang manis-manis. Meskipun sedih kehilangan Om yang aku kenal baik, tapi menurutku ini yang terbaik. Lalu ibu menelepon. Sudahlah.

Leave a Reply

Your email address will not be published.